Kejari Selidiki Dugaan Pungli Bantuan Madrasah oleh Oknum Kemenag Maros

M Bakrie - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 18:31 WIB
Kejari Maros selidiki dugaan pungli dana bantua operasional madrasan dan pesantren yang dilakukan oknum Kemenag Maros (M Bakrie/detikcom)
Kejari Maros menyelidiki dugaan pungli dana bantuan operasional madrasah dan pesantren yang dilakukan oknum Kemenag Maros. (M Bakrie/detikcom)
Maros -

Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros tengah menyelidiki dugaan pungutan liar (pungli) dana bantuan operasional untuk madrasah dan pondok pesantren yang dilakukan oleh oknum di Kementerian Agama (Kemenag) Maros. Diduga ada pemotongan dana bantuan operasional yang dilakukan oknum di Kemenag Maros.

"Iya, kemarin kita mulai melakukan penyelidikan setelah kami menerima laporan. Jadi dugaannya itu terjadi pungli dana BOP madrasah dan pesantren untuk operasional selama pandemi COVID-19. Karena kan selama COVID ini mereka tidak ada aktivitas juga," kata Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Maros Muh Afrizal saat ditemui di kantornya, Rabu (16/9/2020).

Besaran bantuan operasional yang telah dicairkan itu, menurutnya, bervariasi, tergantung jumlah santrinya. Untuk 14 madrasah kisarannya Rp 10-15 juta, sementara untuk 20 pesantren berkisar antara Rp 25-40 juta. Sementara itu, dari dana yang dipotong itu jumlahnya mencapai 26 persen.

"Jadi dana ini dicairkan, lalu diduga diberikan ke oknum Kemenag. Pemeriksaan sementara, potongan untuk madrasah itu sebesar 26 persen dan untuk ponpes 10 persen," lanjutnya.

Saat ini, pihak Kejari Maros mengaku telah memanggil empat orang pegawai dan kepala seksi Pondok Pesantren di Kemenag Maros untuk dimintai keterangan. Selain itu, Kejari telah memanggil tujuh orang dari madrasah dan pesantren sebagai pihak penerima bantuan.

Kejari Maros selidiki dugaan pungli dana bantua operasional madrasan dan pesantren yang dilakukan oknum Kemenag Maros (M Bakrie/detikcom)Kejari Maros telah memeriksa empatorang dari Kemenag Maros dan tujuh orang dari pihak penerima bantuan operasional. (M Bakrie/detikcom)

"Sejak kemarin kami sudah melakukan pemanggilan, klarifikasi, karena masih penyelidikan, ya. Ada empat orang dari Kemenag dan tujuh orang itu dari penerima bantuan. Kasus ini menarik karena ada pelapor yang bilang mereka keberatan karena gimana cara mempertanggungjawabkan dana yang dipotong itu," kata Afrizal.

Saat dimintai konfirmasi melalui telepon, Kepala Kemenag Maros Muhammad Tonang mengaku belum tahu kasus itu. Ia meminta kasus tersebut dimintakan konfirmasi kepada pihak kejaksaan.

"Saya belum tahu, silakan tanyakan ke kejaksaan," ucap Tonang.

(jbr/jbr)