Pos Indonesia Buka Kerja Sama Pemanfaatan Aset di Setiap Daerah

Yudistira Imandiar - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 19:58 WIB
Pos Indonesia
Foto: Pos Indonesia
Jakarta -

PT Pos Indonesia punya jaringan ke berbagai daerah di Indonesia, hingga wilayah pelosok. Luasnya jaringan tersebut merupakan cerminan perjalanan 247 tahun Pos Indonesia di Tanah Air. Jaringan kantor Pos Indonesia telah mulai dibangun oleh Belanda. Posisinya berada di tempat strategis berdekatan dengan alun alun, pusat pemerintahan, dan lainnya.

Pada zaman Orde Baru, Presiden Soeharto berkomitmen menghadirkan kantor Pos di semua kecamatan. Misinya, satu kecamatan satu kantor Pos. Masifnya pengembangan kantor Pos saat itu lantaran pos dianggap sebagai tulang punggung distribusi dan komunikasi antar daerah.

Dahulu, hampir semua aktivitas ekonomi yang mengandalkan distribusi dan jangkauan luas, memanfaatkan kantor Pos. Kantor Pos menjadi pusat tempat pembayaran, distribusi bantuan dan beasiswa, dan lainnya.

"Tapi sekarang ketika teknologi telah berkembang pesat, orang tidak lagi datang ke kantor Pos. Mereka bisa transaksi via online. Misalnya pembayaran pakai PGM (Pos Giro Mobile). Kirim barang juga bisa online lewat QPOSinAja," kata Vice President Marketing PT Pos Indonesia (Persero) Tata Sugiarta dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2020).

Menurut Tata, Pos Indonesia saat ini tidak memerlukan banyak space untuk mengelola jasa kiriman. Pos Cabang Bandung yang dulu melayani hingga 45 loket misalnya, kini cukup lima loket. Hal itu juga diterapkan di kantor Pos lainnya, sehingga banyak space yang bisa dimanfaatkan.

Salah satu konsep pemanfaatan aset Pos Indonesia yang bisa digarap adalah fulfilment, atau menyewakan gudang dan space. Ini bisa dipakai para seller untuk stokis produk guna pengembangan produk di daerah. Jadi ketika di setiap daerah ada stokis, ongkos kirim akan jauh lebih murah.

Pos Indonesia juga menyediakan aplikasi Warehouse Management System (WMS). Pelaku usaha, nantinya tinggal memantau ketersediaan barang di setiap kantor Pos menggunakan aplikasi ini.

"Jadi seller bisa mengontrol ketersediaan barangnya dari mana saja. Dia pun tidak perlu punya orang di kantor Pos. Karena barangnya sudah terdata. Jadi nanti kurir kami tinggal ambil barangnya saja dan langsung didistribusikan kepada pembeli," kata Tata.

Konsep kedua yang bisa ditawarkan Pos Indonesia untuk pemanfaatan aset adalah kerja sama bisnis offline to online (O2O). Para pelaku usaha seperti UMKM bisa memanfaatkan cabang Pos untuk men-display barangnya.

"Misalnya mereka yang jualan fesyen bisa mendisplay barangnya di kantor Pos. Jadi jualan online, tapi contoh ofline-nya juga ada. Kalau mau beli, tinggal tembak barcode-nya, nanti otomatis terhubung dengan sistem," jelas Tata.

Menurut dia, konsep seperti ini akan sangat menguntungkan pelaku usaha. Karena tidak sedikit konsumen yang mesti melihat barang secara fisik, sebelum membeli. Pengusaha tidak perlu investasi buka toko di semua wilayah, tetapi cukup memanfaatkan cabang Pos Indonesia yang jumlahnya lebih dari 4.000 itu.

(mul/ega)