Qodari: Ahok Baik di Tata Kelola, Buruk di Tata Kata

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 10:24 WIB
Muhammad Qodari
Foto M Qodari: (Ari Saputra-detikcom)
Jakarta -

Baru-baru ini BasukI Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok mengungkap kebobrokan di dalam direksi PT Pertamina Persero. Sikap Ahok ini membuat sejumlah orang geram, Ahok dinilai buruk dalam berkomunikasi dan mengelola tata kata.

"Ya memang inikan penyakitnya Ahok ya, Ahok inikan punya 2 sisi istilahnya itu Jack Kill, Mr Jack Kill and Mr Hide, di satu sisi kalau saya percaya dengan kesungguhan dengan kejujuran Ahok untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dimanapun institusi dia berada, tetapi di sisi lain dia memiliki kelemahan, dalam soal komunikasi. Komunikasinya cenderung katakanlah bombastis, yang kedua, sering tidak bisa membedakan kapan dan di mana, waktu yang tepat untuk berbicara," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, kepada detikcom, Rabu (16/9/2020).

Qodari menilai cara komunikasi Ahok yang terkesan bombastis ini sering menjadi blunder dan malah menyerang dirinya sendiri. Dia lantas mengungkit seperti kasus Ahok saat Pilkada DKI 2017 yang menyeretnya ke bui dan ditahan di Mako Brimob.

Menurut Qodari, Ahok tidak cocok bekerja di bidang pemerintahan. Dia menilai Ahok lebih cocok bekerja di perusahaan swasta jika cara berkomunikasinya tidak berubah.

"Yang namanya pejabat publik, entah yang dipilih langsung menjadi kepala daerah, atau yang ditunjuk menjadi menteri, atau bagian dari sebuah BUMN seperti Pertamina, ini memang hemat saya nggak begitu cocok untuk Pak Ahok, karena gaya dan kepribadian Pak Ahok ternyata tidak berubah," jelasnya.

"Kalau Ahok menjadi pejabat di ranah swasta, perusahaan swasta, yang tidak berhubungan dengan banyak orang, dengan kepentingan banyak orang, ya cara komunikasi seperti ini tidak masalah. Dengan melihat perjalanan yang ada, ya hemat saya memang Ahok tempat terbaiknya ada di perusahaan swasta bukan di jabatan publik atau berhubungan dengan publik atau separuh publik seperti BUMN," ujar Qodari.

Dia pun menyarankan agar Ahok sebaiknya bekerja dalam diam saja. Untuk urusan publik, Qodari menyarankan Ahok menunjuk seorang juru bicara mewakili dirinya agar penyampaian ke publiknya lebih baik.

"Seperti saran saya di awal sekali ketika Ahok pertama kali ditunjuk menjadi Komisaris Pertamina, saya menyarankan beliau untuk bekerja dalam diam. Untuk urusan komunikasi ke luar, ke publik, ke media, serahkan ke jubir, sehingga lebih terkelola tidak spontan-spontan, tidak emosional. Jadi tata kelola itu menjadi lebih baik, lebih maksimal apabila dibarengi dengan tata kata," tegasnya.

Qodari menilai Ahok secara jika dilihat secara pekerjaanya tidak perlu dipertanyakan lagi, dalam artian Ahok bekerja baik dan benar. Namun, kekurangan Ahok, kata Qodari, adalah tidak bisa memperbaiki tata kata dalam berkomunikasi dan kekurangan itu dinilai bisa menjatuhkan Ahok.

"Niatnya melakukan tata kelola, tapi tata katanya nggak bagus akhirnya hasilnya tidak maksimal, dan jangan-jangan menimbulkan masalah baru, saya kira itu yang dikhawatirkan oleh Andre Rosiade. Hemat saya dia (Andre) bukannya tidak setuju ada Ahok di komisaris, tapi dia khawatir dengan cara komunikasi Ahok, Jadi menurut saya sih perjalanan 2017 sampai 2020 termasuk di Mako Brimob itu memang belum mengubah Ahok. Dia bagus pada tata kelola, tapi buruk pada tata kata," tutur Qodari.

Simak juga video 'Ahok: Siapapun Korupsi di Pertamina, Kami Lacak Anda!':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2