Ahok Vs Andre Rosiade di Pusaran Isi Perut Pertamina

Matius Alfons - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 08:59 WIB
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).
Komisaris Utama Pertamina, Basuk Tjahaja Purnama (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok buka suara terkait kondisi Pertamina saat ini. Di mata pakar politik, Ahok punya niat baik tapi cara penyampaiannya masih memancing kontroversi.

"Mestinya juga Pak Ahok memainkan politik yang santun ya saat ini dan posisinya saat ini, meskipun sebagai politisi PDIP, pada saat beliau sampaikan tentang isi perut Pertamina, beliau harusnya bertindak sebagai profesional, sebagai komisaris utama," kata Pengamat Politik dari lembaga survei KedaiKOPi Hendri Satrio (Hensat), saat dikonfirmasi, Rabu (16/9/2020).

Gaya khas Ahok yang belum berubah itu pulalah yang memancing respons keras politikus Gerindra sekaligus anggota DPR, Andre Rosiade. Andre meminta Jokowi mencopot Ahok yang menurutnya melakukan evaluasi secara gaduh.

"Jadi saya mengerti kegundahan Andre Rosiade karena sebagai wakil rakyat ya suaranya jauh lebih didengar ketimbang rakyat biasa seperti saya pada saat bicara atau sampaikan kegundahan apa yang disampaikan Pak Ahok tentang isi perut Pertamina kemarin," ucapnya.

Meski demikian, Hendri melihat ada manuver juga dalam reaksi keras Andre terhadap langkah Ahok. Andre dinilai menunjukkan posisi Gerindra yang seperti ingin kembali menjadi oposisi pemerintah. Meski demikian, yang dilakukan Andre pun dinilai valid.

"Jadi menurut saya sih Gerindra sedang memainkan posisi sebagai, apa ya, mereka ingin ambil kembali posisi pada saat memposisikan diri sebagai oposisi, gitu maksud saya. Jadi masukan dari Gerindra, dari Andre Rosiade ini valid dan bagus sekali," paparnya.

Hensat pun berpendapat lebih baik Ahok tidak buang-buang energi dengan cawe-cawe atau bicara lantang soal kebobrokan. Ahok dinilai lebih baik bekerja dalam diam merapikan Pertamina.

"Harusnya Pak Ahok tidak perlu menyampaikan apa yang terjadi di dalam manajemen Pertamina, tapi justru harusnya dia sebagai Komisaris Utama yang memperbaiki, memonitor perbaiki kinerja, jadi jangan hanya kemudian tinggi harapan yang diberikan pada Pak Ahok tapi sedikit yang bisa terlaksana. Lebih baik Pak Ahok bekerja dalam diam, kemudian membereskan Pertamina dan membuktikan bahwa Pak Jokowi tidak salah menempatkan dirinya sebagai Komisaris Utama," ujar Hensat.

"Ahok punya tugas lebih besar daripada sekdar cawe-cawe kebobrokan atau bicara lantang tentang kebobrokan perusahaan yang sedang di-manage olehnya itu sebagai Komisaris Utama, beban Pak Ahok besar," lanjut dia.

Hensat pun menyarankan Ahok bekerja nyata saja mengembangkan Pertamina menjadi perusahaan minyak yang terdepan di Asia Tenggara, bahkan dunia.

"Jadi simpan energi untuk membongkar keburukan internal dengan kerja nyata, ingat pekerjaan rumah anda masih banyak," imbuhnya.

Simak juga video 'PPP Soal Isu Liar Ahok Jadi Menteri: Kinerja di Pertamina Belum Terlihat':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/van)