Ini Rekomendasi Peneliti 4 PTN Soal Transportasi Aman Saat Pandemi

Yudistira Imandiar - detikNews
Selasa, 15 Sep 2020 18:32 WIB
Kemenhub
Foto: istimewa
Jakarta -

Penelitian kegiatan transportasi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemenhub bersama empat perguruan tinggi negeri mencatat perubahan perilaku masyarakat dan permintaan pada jasa transportasi di masa pandemi.

Masing-masing universitas memberikan rekomendasi kepada Kemenhub untuk menyusun regulasi yang efektif untuk membuat sistem transportasi yang aman.

Balitbang Kemenhub melibatkan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk meneliti penyelenggaraan transportasi di berbagai lini.

Tim peneliti UGM memfokuskan kajian pada industri perkeretaapian. Diungkapkan Rektor UGM Prof. Panut Mulyono, pembatasan perjalanan masyarakat dengan moda kereta api tak lagi efektif setelah COVID-19 menyebar.

Berdasarkan hasil penelitian tim UGM, saat ini perlindungan bagi setiap individu pengguna kereta api lebih efektif ketimbang membatasi perjalanan. Pencegahan penyebaran dapat dilakukan dengan sistem pelacakan perjalanan serta pencatatan interaksi sosial untuk menemukan klaster baru setelah ada penumpang kereta yang positif COVID-19.

"Penggunaan teknologi digital dapat membantu pembatasan jumlah penumpang, jadwal, dan sistem antrian agar tercapai okupansi maksimal 50 persen di dalam kereta dan minimi dua seperempat meter (jarak) per orang di stasiun," ulas Panut dalam kick-off seri webinar 'Transportasi Sehat Indonesia Maju', Selasa (15/9/2020).

Tim peneliti UGM merekomendasikan operator keretaapian menerapkan konsep transportasi humanitarian. Dengan konsep tersebut, kereta api menjelma menjadi layanan yang mengutamakan hidup dan kehidupan manusia, yang berorientasi pada peningkatan produktivitas setiap individu.

"Untuk menuju humanitarian transport diperlukan tata kelola industri perkeretaapian dengan melibatkan Litbang Perhubungan sebagai badan kebijakan strategi transportasi, tentunya didukung perguruan tinggi yang menjadi ujung tombak inovasi. Kemudian dunia usaha dan industri menerapkan pemanfaatannya dan pemerintah menjamin terbentuknya pasar yang kompetitif," urai Panut.

Jika UGM menggarap riset ihwal perkeretaapian, UI berfokus pada transportasi udara. Dari riset komprehensif terhadap operator transportasi udara, serta infrastruktur pendukungnya didapatkan beberapa rekomendasi, antara lain pentingnya penggunaan masker dan face shield bagi penumpang pesawat udara, pemasangan sekat antar penumpang, tersedianya hand sanitizer di dalam pesawat. Bagi awak pesawat direkomendasikan untuk melakukan tes COVID-19 secara berkala, sera wajib menggunakan masker, physical distancing, dan dilarang keluar hotel saat transit.

Rektor UI Prof. Ari Kuncoro menjabarkan, koordinasi antara stakeholder dengan operator merupakan kunci penting dalam mewujudkan penerbangan yang aman.

"Untuk mencapai hasil dan dampak yang efektif dalam penanganan COVID-19, setiap aktor baik regulator dan operator perlu melakukan visi dan aksi yang terkoordinasi dan mengedepankan kolaborasi dalam prosesnya. Sehingga bisa terwujud terbang aman terbang nyaman transportasi sehat indonesia maju," ulas Ari.

Beralih ke ITS yang menangani riset ihwal transportasi laut, sungai, danau, dan penyeberangan (LSDP). Salah satu hasil yang dikemukakan ITS, yakni integrasi pusat distribusi dan jaringan transportasi LSDP. Integrasi yang dimaksud, yakni perluasan fungsi kapal penumpang untuk distribusi logistik. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengiriman logistik dan angkutan penumpang dengan tetap memperhatikan keamanan.

"pelabuhannya kita usulkan di tiga pelabuhan utama, di Jakarta, Surabaya, Makassar. Untuk efektivitas karena tiga pelabuhan ini sudah mengcover wilayah-wilayah di Indonesia," jelas Rektor ITS Prof. Mochammad Ashari.

ITS turut menyampaikan gagasan pemanfaatan kapal LCT milik TNI untuk pengiriman logistik kemanusiaan. Di kapal tersebut juga dapat didirikan rumah sakit kontainer, guna membantu penanganan COVID-19 di wilayah yang grafik penyebarannya tinggi.

"Di ITS selama pandemi kami melakukan desain rumah sakit dari kontainer, rumah saki lapangan, rumah sakit perluasan di Jawa Timur, dan seterusnya. Ini (RS kontainer) bisa digunakan di kapal LCT TN, sehingga bisa dipindahkan ke wilayah yang COVID-nya cukup tinggi," papar Ashari.

Selanjutnya, ada ITB yang meneliti jalan dan transportasi antar moda. Temuan menarik yang disampaikan tim peneliti, yakni kebijakan pengaturan jam kerja yang ternyata lebih efektif untuk menekan penyebaran COVID-19 ketimbang pemberlakuan ganjil-genap atau perubahan jam operasional transportasi umum.

Dalam paparannya, peneliti ITB mencatat perlu adanya pengetata protokol kesehatan di stasiun atau terminal terutama dalam mencegah terjadinya kerumunan yang berpotensi menjadi tempat penyebaran COVID-19. Penelitian juga menyoroti aktivitas di pusat retail dan rekreasi yang berhubungan dengan penambahan kasus COVID-19.

"Tim kami dibagi menjadi enam klaster melibatkan 35 orang tim ahli multidisiplin, mencakup lima fakultas sekolah di bawah koordinasi National Centre for Sustainable Transportation Technology," ujar Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah.

Peneliti ITB juga memaparkan temuan andanya penuruna pendapatan perusahaan transportasi dan logistik yang signifikan di masa pandemi.

"Hasil kajian tim peneliti kami selama pandemi menunjukkan pergerakan penumpang dan barang mengalami penurunan 60 hingga 100 persen. Dan pendapatan perusahaan transportasi dan logistik menurun 50 hingga 100 persen," rinci Reini.

Tonton video 'Tambah 3.507, Kasus Covid-19 di Indonesia Menjadi 225.030':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)