Satgas COVID-19: 30 Persen Warga DKI Merasa Tak Akan Kena Corona

Wilda Nufus - detikNews
Minggu, 13 Sep 2020 21:42 WIB
Kepala BNPB Doni Monardo usai ratas soal banjir (Andhika/detikcom)..
Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo (Andhika/detikcom)
Jakarta -

Ketua Satgas Penanganan (Satgas) COVID-19 Letjen Doni Monardo mengatakan saat ini masih ada warga yang merasa kebal terhadap virus Corona (COVID-19). Dengan keyakinan itu, kata Doni, mereka pun lantas tidak mematuhi protokol kesehatan yang diwajibkan pemerintah.

Doni mengungkapkan setidaknya ada lima daerah dengan jumlah warga yang merasa tidak akan terkena COVID-19 tinggi dibanding daerah lainnya. Hal ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim perubahan perilaku Satgas COVID-19.

"Lima provinsi ini tingkat persentase masyarakat yang merasa dirinya tidak (akan) kena COVID sangat tinggi," kata Doni dalam diskusi yang disiarkan kanal YouTube BNPB, Minggu (13/9/2020).

Lima provinsi tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan. Doni mengatakan persentase tertinggi diduduki DKI Jakarta.

"Untuk daerah Jakarta itu ada 30 persen masyarakatnya merasa dirinya tidak (akan) kena COVID. Nomor dua adalah Jawa Timur 29 persen, nomor tiga adalah Jawa Tengah 18 persen, nomor empat Jawa Barat 16 persen, dan satu lagi Kalimantan Selatan," tuturnya.

Doni mengungkapkan daerah-daerah tersebut sudah memberlakukan berbagai macam sanksi agar warganya mematuhi protokol kesehatan yang diwajibkan. Namun masih banyak warga yang abai lantaran merasa tidak akan terpapar COVID-19.

"Banyak daerah juga yang sudah memberlakukan aturan macam-macam, bahkan sanksi, denda dengan berbagai macam bentuk hukuman, tetapi juga belum maksimal," ucapnya.

Untuk itu, kata Doni, perlu adanya pembelajaran dari kasus masa lampau yang pernah terjadi di Indonesia, yakni wabah flu Spanyol melanda Indonesia. Kala itu, pemerintahan Belanda mensosialisasikan protokol kesehatan melalui wayang.

"Saya melihat begini, kita belajar tentang masalah sejarah, sejarah tentang masalah bangsa kita, sejarah tentang kasus COVID masa lalu, 102 tahun, yang korbannya mencapai jutaan orang, flu Spanyol," ungkapnya.

"Nah, sekarang lewat apa yang perlu kita lakukan untuk menyesuaikan agar tingkat kepatuhan masyarakat meningkat," imbuh Doni.

(mae/mae)