Saudi dan Ulama

Sheikh Abdurrahman as-Sudais, Ulama yang Pro-Kerajaan Saudi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 13 Sep 2020 09:21 WIB
Syeikh Abdurrahman as-Sudais (ANTARA Foto)
Sheikh Abdurrahman as-Sudais (Foto: dok. Antara Foto)

Imam itu mendesak jemaah menghindari 'kesalahpahaman tentang keyakinan yang benar di hati yang berdampingan dengan hubungan yang sehat dalam pertukaran antarpribadi dan hubungan internasional'.

Dia melanjutkan dengan menyebutkan beberapa cerita dari kehidupan Nabi Muhammad, yang menjaga hubungan baik dengan nonmuslim. "Ketika jalannya dialog manusia yang sehat diabaikan, bagian-bagian peradaban masyarakat akan bertabrakan, dan bahasa yang akan menjadi lazim adalah kekerasan, pengucilan, dan kebencian," ujar sang imam.

Dia menekankan pentingnya tetap patuh terhadap para pemimpin dan otoritas serta menyadari faksi dan kelompok yang sesat.

Pernyataan itu menuai kritik di media sosial, dengan banyak pengguna menuduh Sudais menyalahgunakan masjid paling suci Islam.

Untuk diketahui, kesepakatan normalisasi antara Israel dan UEA telah menimbulkan kekhawatiran tentang status sensitif Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam.

Ini bukan pertama kalinya Sudais menimbulkan kontroversi. Pada 2017, dia dikritik karena mengklaim dalam sebuah wawancara TV bahwa Presiden AS Donald Trump, AS, dan Arab Saudi mengarahkan dunia menuju perdamaian.

Dia juga dicemooh selama ceramah yang dia berikan di sebuah masjid di Jenewa pada 2018 ketika dia ditanya oleh seorang anggota hadirin: "Bagaimana Anda bisa menguliahi kami tentang perdamaian saat Anda memboikot dan membuat kelaparan saudara-saudara Anda di Yaman dan Qatar?"

Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, tetapi negara-negara Teluk Arab semakin dekat hubungan publiknya dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu didorong oleh persaingan bersama mereka dengan Iran dan keuntungan menghubungkan ekonomi mereka.

Pandangan As-Sudais ini jelas bertolak belakang dengan ulama yang menolak modernisasi. Dilansir Middle East Monitor (MEMO), Selasa (8/9) akun Twitter the Prisoners of Conscience menyampaikan bahwa Sheikh Basfar ditangkap pada Agustus lalu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana dan di mana dia ditangkap.

Basfar adalah seorang profesor di departemen Sharia dan Islamic Studies di King Abdul Aziz University di Jeddah. Ia juga mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Kitab dan Sunnah Dunia.

Laporan tentang penahanan Sheikh Basfar bertepatan dengan laporan tentang penahanan Sheikh Saud al-Funaisan, yang ditangkap pada Maret.

Isu yang berkembang di masyarakat Saudi, penangkapan ulama ini dikaitkan dengan kritik terhadap sang putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Sejak 2017, ketika putra mahkota mengambil alih kekuasaan, dia telah menindak ulama, jurnalis, akademisi, dan aktivis dunia maya atas pandangan kritis mereka tentang cara dia memerintah negara dan rencananya mengubah Arab Saudi menjadi sekuler.

Halaman

(rdp/fay)