Round-Up

Akhir Kisah Peserta MTQ Mundur Gegara Diminta Dibuka Cadar

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 21:30 WIB
LONDON, ENGLAND - APRIL 11:  A woman wears an  Islamic niqab veil stands outside the French Embassy during a demonstration on April 11, 2011 in London, England. France has become the first country in Europe to ban the wearing of the veil and in Paris two women have been detained by police under the new law.  (Photo by Peter Macdiarmid/Getty Images)
Ilustrasi wanita memakai cadar. (Getty Images)
Medan -

Seorang peserta MTQ ke-37 Sumatera Utara (Sumut), Muyyassaroh, memilih mundur daripada harus membuka cadar saat tampil di MTQ. Aksinya tersebut mengundang simpati dari berbagai pihak, yang kemudian memberi hadiah kepada Muyyassaroh.

Insiden menolak membuka cadar itu terjadi saat Muyyassaroh hendak tampil di MTQ ke-37 Sumut yang digelar di Tebing Tinggi. Dia awalnya sempat naik ke bilik sebelum akhirnya turun lagi setelah dewan hakim mengatakan harus membuka cadar atau didiskualifikasi.

"Peraturan nasional. Sudah diterapkan sejak tahun lalu di TSQ Pontianak," kata suara pria yang belakangan disebut sebagai dewan hakim. Video terkait insiden tersebut kemudian viral di media sosial.

Panitia MTQ kemudian memberi penjelasan. Menurut panitia, insiden tersebut dipicu kesalahpahaman. Panitia menegaskan aturan wajib membuka cadar sudah disesuaikan untuk MTQ ke-37 Sumut sehingga peserta tak perlu membuka cadarnya ketika tampil di depan dewan hakim.

"Membuka cadar sebagai antisipasi kecurangan memang diterapkan di level nasional. Tetapi, di Sumut, kita sudah lakukan penyesuaian dengan ketentuan sebelum tampil kita periksa terlebih dahulu. Kejadian saat itu murni kesalahpahaman lantaran saat itu dewan hakim yang bertugas memang berasal dari pusat," ujar Ketua Panitia Pelaksana MTQ Palid Muda Harahap dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2020).

Palid mengatakan panitia telah menghubungi kafilah Labuhanbatu Utara yang menjadi kafilah asal Muyyassaroh. Yang bersangkutan sudah diminta tampil ulang, tapi menolak. Palid juga menjelaskan alasan adanya aturan nasional bagi peserta MTQ untum membuka cadar saat tampil.

"Ini sebenarnya kenapa kita apakan (harus membuka cadar). Kadang ada anak-anak yang salah menggunakan cadar ini kan. Tampil di kabupaten bukan dia, tampil di provinsi bukan dia. Tampil pakai bercadar bukan dia, nama (pakai) nama dia. Jadi cadar ini baik, tapi jangan disalahgunakan," kata Palid.

"Yang bercadar itu, kita tugaskanlah dewan hakim yang perempuan memeriksa yang bercadar di kamar tertutup. Kita sesuaikan wajahnya dengan pasfoto waktu mendaftar," sambungnya.

Pihak Muyyassaroh juga sudah angkat bicara. Abang ipar Muyyassaroh, Abdul Rahman, mengatakan adiknya itu memang tak pernah membuka cadar di depan umum. Bahkan, katanya, dirinya belum pernah melihat wajah adik iparnya itu.

"Keyakinan cadar dia itu bukan spontanitas dia laksanakan. Artinya, apa pun dunia yang ditawarkan sama dia dengan unsur membuka salah satu kebiasaan dia, baik itu cadarnya atau yang lainnya, maka dia lebih takut dengan yang membuat aturan, yaitu Allah SWT," kata Abdul Rahman kepada wartawan di Medan, Kamis (10/9/2020).

"Demi Allah saya katakan, saya sebagai abang iparnya pun belum pernah sekali pun melihat wajahnya. Makanya beliau merasa berat untuk melepas itu," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2