Permapkin Ungkap 50% Manajer Rumah Sakit di Indonesia Terpapar Corona

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 16:15 WIB
Petugas medis mempersiapkan ruangan yang akan digunakan untuk pasien COVID-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (30/4/2020). Peralatan medis ini didatangkan oleh CT Corp, bersama Bank Mega serta dukungan Indofood dan Astra Group.
Ilustrasi petugas medis (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Pengurus Pusat Perhimpunan Manajer Pelayanan Kesehatan Indonesia (Permapkin) Hermawan mengatakan 50 persen manajer rumah sakit terpapar Corona (COVID-19). Hermawan menyebut ada juga manajer rumah sakit yang berstatus positif Corona.

"Berbicara manajemen, terutama di rumah sakit, itu banyak sekali kasus-kasus terkontaminasi para manajer pelayanan kesehatan. Bahkan ada rumah sakit yang 50 persen, bayangkan 50 persen manajer kena," kata Hermawan dalam sebuah diskusi bertajuk 'Penularan Bertambah, Perilaku Kok Belum Berubah?' yang disiarkan melalui Zoom, Sabtu (12/9/2020).

"Kalau 50 persen manajer ini kena, siapa yang mengoperasikan rumah sakit. Siapa yang melakukan tata kelola rumah sakit. Bahkan rumah sakit yang paling mentereng di Indonesia pun banyak yang kena dari aspek manajernya," lanjutnya.

Hermawan menuturkan terpaparnya para manajer rumah sakit menggambarkan letihnya pihak manajemen dan tata kelola rumah sakit. Menurutnya, salah satu penyebab DKI melakukan rem mendadak dengan PSBB total adalah kondisi tenaga kesehatan (nakes) dan fasilitas kesehatan (faskes) sedang tak kondusif.

"Hal ini tentu saja berkaitan dengan bagaimana lelahnya, lelah ini tidak hanya berkaitan dengan nakes, tapi kelelahan dan tata kelola dan juga manajemen faskes. Nah, ini yang menyebabkan pertimbangan untuk dilakukan pengereman darurat, itu bukan semata-mata dari angka epidemiologis. Angka epidemiologis saja sudah mengerikan, tapi yang paling riskan itu adalah kesiapan nakes dan faskes," tuturnya.

Hermawan menyampaikan, berdasarkan data kasus positif Corona yang lebih dari 210 ribu, Indonesia dapat dikatakan masuk dalam tahap masa kritis. Bahkan dia mengatakan jumlah orang yang terpapar COVID-19 bisa saja mencapai hingga 1 juta.

"Kita sekarang ini sudah ada di angka 210 ribu angka positif yang terdeteksi. Di saat ini kita sudah menghadapi critical moment. Tetapi bayangkan kalau kasus kita menembus angka 500 ribu hingga 1 juta yang positif pada tahun ini. Karena for testing, kami sangat memungkinkan itu terjadi," ungkap dia.

(aud/aud)