Negara Jadi-jadian

Heboh Paguyuban Berlambang Garuda, Ketua Adat Sunda Ungkap Akar Masalahnya

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 10:52 WIB
Ketua Majelis Adat Sunda, M Ari Mulia Subagdja. (Dok Pribadi)
Ketua Majelis Adat Sunda, M Ari Mulia Subagdja. (Dok Pribadi)

Orang yang dilanda kesulitan hidup tanpa kebanggaan bakal mudah tertarik dengan identitas baru, yakni identitas yang membanggakan sebagai anggota suatu kelompok tertentu, kelompok yang mewarisi kekayaan bangsa. Mereka yang dulunya minder karena beridentitas sebagai rakyat miskin seolah menjadi tidak minder lagi gara-gara mempunyai identitas baru dari kelompok itu, yang sayangnya semu belaka.

"Ini krisis identitas," kata Ari.

Dia mengimbau agar masyarakat tidak mudah tergiur janji-jani manis kelompok semacam Paguyuban di Cisewu Garut pimpinan Mister Sutarman itu. "Masyarakat perlu waspada agar tidak tergiur dan menjadi berhalusinasi," kata Ari.

Sunda EmpireAksi-aksi Sunda Empire ketika masih eksis. (Tangkapan layar YouTube)

Polda Jawa Barat memproses Paguyuban Tunggal Rahayu. Kelompok ini disebut mematok tarif Rp 100 ribu sampai Rp 600 ribu bagi orang yang ingin menjadi anggota Paguyuban. Kelompok nyeleneh ini menjanjikan pencairan harta dari Bank Swiss untuk memikat korban.

"Motifnya saat ini kan kita melihat dari adanya penipuan, jadi motifnya itu dia memberikan terkait dengan kata-kata bohong bisa mencairkan harta di Bank Swiss lalu deposito emasnya sekitar 80 ribu euro dan kemudian menjanjikan pekerjaan kepada korban, nah sehingga karena ketertarikan itu maka masuk ke kelompok tersebut," kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Erdi A Chaniago, saat dihubungi wartawan, Kamis (10/9).

DOK. Polres Kutai Timur/ Spanduk King of The King di Kutai Timur KaltimDOK. Polres Kutai Timur/ Spanduk King of The King di Kutai Timur Kaltim Foto: DOK. Polres Kutai Timur/ Spanduk King of The King di Kutai Timur Kaltim
Halaman

(dnu/fjp)