Eks Kasat Reskrim Cerita Demo Mahasiswa di DPRD Sultra Berujung Ricuh

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 10 Sep 2020 18:53 WIB
Eks Kasat Reskrim Polres Kendari menceritakan kronologi demo mahasiswa di DPRD Sultra berujung ricuh dalam sidang kasus tewasnya mahasiswa Kendari (Zunita Amalia/detikcom)
Eks Kasat Reskrim Polres Kendari menceritakan kronologi demo mahasiswa di DPRD Sultra berujung ricuh dalam sidang kasus tewasnya mahasiswa Kendari. (Zunita Amalia/detikcom)
Jakarta -

Eks Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP Diki Kurniawan, menceritakan bagaimana kronologi demo mahasiswa di lingkungan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra). Diki mengatakan saat itu demo berujung ricuh.

"Awalnya sekitar pukul 13.00 Wita, massa aksi sudah merapat ke gedung DPRD, kemungkinan jumlah sekitar 4.000-5.000 massa. Kemudian massa ditemui Ketua DPRD, kemudian saat Ketua DPRD turun terjadi pelemparan ke dalam kantor DPRD, setelah itu situasi tak terkendali, kemudian massa aksi terus lempar dari segala arah," ujar Diki saat bersaksi di sidang lanjutan tewasnya mahasiswa Kendari bernama Randi di PN Jaksel, Jalan Ampera Raya, Kamis (10/9/2020).

Diki mengatakan saat kerusuhan terjadi, seluruh anggotanya dari Satreskrim Polres Kendari berpencar. Massa juga tak terkendali sehingga polisi menembakkan gas air mata ke arah mereka.

Salah satu gedung di DPRD Sultra juga ada yang terbakar akibat kerusuhan itu. Di kerusuhan itu, Diki mengaku mendengar beberapa kali suara tembakan.

"Semua anggota lari ke sebelah kiri di kantor Depnaker. Di situ, saya dengar ledakan. Saya nggak bisa bedakan itu gas air mata, apa senjata api karena ada beberapa kali (suara ledakan)," ujar Diki.

Diki juga mengaku sempat melihat polisi terjebak di tengah massa. Diki lantas menembakkan pistol ke arah udara untuk menghentikan massa.

"Kemudian saya melihat ada anggota berpakaian dinas dan terjebak. Kemudian di teras Disnakertrans saya sempat menembakkan senjata ke atas," kata Diki.

"Saat itu ada perintah menembak emangnya?" tanya jaksa Rifa.

"Nggak ada," jawab Diki.

Diki mengaku alasannya menembak ke udara sebagai tanda peringatan ke massa aksi. "Karena saya dengar suara ledakan, dan saya tembak peringatan ke atas," kata Diki.

Saat kejadian itu, Diki mengaku terpisah dengan Brigadir Abdul Malik (AM). Diki juga tidak mengetahui apakah AM membawa senjata atau tidak saat itu.

Untuk diketahui, dalam persidangan ini yang duduk sebagai terdakwa adalah Brigadir AM. AM didakwa melakukan tindak pidana pembunuhan terkait tewasnya mahasiswa Universitas Halu Ole, Kendari, bernama Randi. Randi diduga tewas karena tertembak saat mengikuti demo di DPRD Sultra yang berakhir ricuh.

Brigadir AM didakwa dengan tiga dakwaan, yakni dakwaan kesatu primer Pasal 338 KUHP subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP atau kedua Pasal 360 ayat 2 KUHP. Jaksa menyebut perbuatan Brigadir AM terkait tewasnya mahasiswa Kendari yang diduga tertembak saat berunjuk rasa di DPRD Sultra dan menyebabkan seorang ibu hamil terluka tembakan di kakinya.

(zap/jbr)