Cerita Penggali Kubur Jenazah Corona: Mandi di TPU Pakai Sabun Cuci Piring

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 18:27 WIB
Penggali kubur jenazah pasien Corona di TPU Pondok Ranggon
Penggali kubur jenazah pasien Corona di TPU Pondok Ranggon. (Sachril Agustin Berutu/detikcom)
Jakarta -

TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, menjadi salah satu lokasi pemakaman untuk pasien yang meninggal akibat Corona (COVID-19). Salah satu penggali kubur pasien Corona, Rahmat, bercerita sejujurnya merasa khawatir tertular Corona dan menularkan keluarganya.

Oleh sebab itu, Rahmat selalu mandi sebelum pulang ke rumah dengan peralatan mandi seadanya. Dia bahkan mengaku mandi menggunakan sabun cuci piring, saat tak ada sabun mandi, demi menjaga kebersihan.

"Awal kita takut sendiri malah. (Saat awal COVID-19 di) Maret takut sendiri. Gimana biar safety, mandi dulu di sini. Kita mandi pakai apa aja, sabun cuci piring kita pakai, (dan) sabun mandi. Pulang sampai rumah mandi lagi," kata Rahmat saat ditemui TPU Pondok Ranggon, Rabu (9/9/2020).

Selain khawatir terpapar Corona, Rahmat menyampaikan kerja sebagai penggali kubur pasien Corona lebih berat. Dia mengaku tak boleh pulang sampai semua jenazah terkubur. Setiap hari, Rahmat bekerja mulai dari pukul 07.00 WIB.

"Kalau di (penggalian makam) COVID, masuk berapa, masih tunggu dua. Kita tunggu terus sampai datang (ambulans). Dukanya karena emang sudah kewajiban kerja kita. Kedua, kalau dukanya malam, (datang) hujan itu doang," ungkapnya.

Penggali kubur jenazah pasien Corona di TPU Pondok RanggonPenggali kubur jenazah pasien Corona di TPU Pondok Ranggon. (Sachril Agustin Berutu/detikcom)

Selama proses penguburan pun Rahmat selalu memakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Usai bekerja, pakaian hazmat-nya dibakar dan diganti dengan yang baru untuk meminimalkan risiko penularan virus.

Rahmat mengatakan insentif yang diberikan pemerintah telah cukup. Tak hanya itu, dia juga diberi vitamin, pakaian APD, dan uang intensif. "Lancar (intensif), lumayan, tapi (intensif) nggak dua kali gaji. Satu gaji nggak," tutur Rahmat.

Senada dengan Rahmat, penggali kubur pasien Corona lainnya, yaitu Adang, menambahkan jumlah galian makam jenazah COVID-19 dengan jenazah umum berbanding jauh. Meski harus bekerja dengan tenaga ekstra, Adang mengaku menjalani pekerjaan ini dengan tenang.

"Takut sih takut, tapi sudah tugas mau diapain. Jalan saya mungkin sudah begini, cari makan dibawa enjoy aja. Ya kami kalau pulang habis dari sini. Pulang ke rumah nggak masuk ke dalam rumah dulu, buka baju di luar rumah, keringin keringat. Setengah (sampai) 1 jam lamanya, baru mandi. Kalau pulang malam bisa mandi air hangat," pungkas Adang.

(aud/aud)