Kepala RSPAD Ungkap Kondisi 2 Polisi yang Jadi Korban Penyerangan Ciracas

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 14:38 WIB
Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Letjen TNI Bambang Dwi Hasto (Arun-detik)
Foto: Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Letjen TNI Bambang Dwi Hasto (Arun-detik)
Jakarta -

Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Letjen TNI Bambang Dwi Hasto, menjelaskan kondisi terkini dua polisi yang menjadi korban penyerangan di Polsek Ciracas, Jakarta Timur. Bambang mengatakan kondisi dua polisi itu saat ini sudah berangsur membaik.

Ada tiga pasien yang dirawat di RSPAD Gatot Subroto, 2 dari kepolisian, dan 1 dari masyarakat. Ketiganya mengalami cedera yang berbeda-beda, ada cedera memar di paru-paru dan juga mata.

"Pertama, pasien Tuan BD Bripda Polri 22 tahun yang dirujuk ke RSPAD setelah operasi cedera pembuluh darah kanan, paha kanan karena saturasinya turun waktu itu. Sudah saya sampaikan minggu lalu bahwa hasil pendalaman tidak ada masalah. Kemudian pendalam CT scan toraks dan foto toraks, didapatkan gambaran perkabutan di toraks foto dada sebelah kiri, setelah di bronkoskopi, didapatkan adanya gumpalan darah di saluran bronkos sebelah kiri, kemudian didapatkan tanda-tanda kontusio (memar) di paru sebelah kiri," ungkap Bambang saat konferensi pers, Rabu (9/9/2020).

Kontusio paru artinya ada memar di paru kiri korban. Kendati demikian, Bambang mengatakan kondisi Bripda BD saat ini semakin membaik.

"Pagi ini pasien dalam keadaan kondisi penuh, kemudian sudah dicoba lepas ventilator hari ini. Perawatan masih terus dilanjutkan karena untuk mengatasi infeksinya," katanya.

Selain BD, anggota polisi berinisial P (43) yang mengalami cedera bagian mata juga sudah membaik. Saat ini P sudah bisa melihat dalam jarak pandang setengah meter setelah dilakukan operasi pada retina matanya.

"Sesmen pagi ini perkembangannya adalah mata kanan yang sudah dioperasi, perkembangannya kalau dulu sepertiga ratus, pagi tadi setengah per-60, artinya dalam jarak setengah meter sudah bisa melihat gerakan tangan," jelasnya.

Bambang mengatakan pasien P akan menjalani operasi pengambilan benda asing pada 25 September mendatang. Operasi semestinya dilakukan pada (3/9) kemarin, namun tidak jadi karena pasien baru menjalani operasi retina mata.

"Operasi pengambilan benda asing direncanakan 25 September, hal ini karena operasi matanya sendiri membutuhkan pasien harus dalam posisi terbaring selama posisi 3 minggu minimal. Kita prioritaskan kembalinya fungsi mata dulu 3 minggu," ujar dia.

Kemudian ada pasien ketiga MH (30), yang sudah menjalankan operasi pengambilan gotri saat ini kondisinya juga dikabarkan membaik. RSPAD saat ini sedang memberikan pendampingan psikologi kepada MH dan istri MH karena trauma jika melihat kerumunan.

"Pasien sampai hari ini masih kita rawat kondisi bagus. Tuan MH umur 30 tahun kondisi sadar penuh mandiri. Namun perlu perawatan lanjutan berkaitan faktor psikologis yang bersangkutan termasuk istrinya. Jadi informasi tambahan istrinya kita lanjutkan ke tim psikiater kita, karena ada keluhan antisipatori jadi kalau lihat kerumunan ketakutan, sehingga perlu ada pendampingan psikiater," pungkas Bambang.

(zap/hri)