Disorot Pusat, Pemprov DKI Klaim Kenaikan Penumpang Angkutan Umum Hanya 4%

Wilda Nufus - detikNews
Minggu, 06 Sep 2020 11:15 WIB
Kadishub DKI Jakarta Syafrin Liputo
Kadishub DKI Jakarta Syafrin Liputo (Luqman/detikcom)
Jakarta -

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan persentase peningkatan penumpang angkutan umum imbas penerapan ganjil-genap di DKI Jakarta hanya berkisar 4 persen. Menurutnya, angka ini masih jauh dari kapasitas penumpang yang tersedia di fasilitas publik tersebut.

"Bahwa memang berdasarkan data, terjadi peningkatan penggunaan angkutan umum, rata-rata terakhir satu bulan kemarin. Setelah kami dapatkan angkanya sekitar 4 persen. Perlu dipahami bahwa 4 persen angka peningkatan ini itu masih jauh dari kapasitas tersedia," kata Syafrin kepada wartawan di Bundaran HI, Minggu (6/9/2020).

Syafrin kemudian mencontohkan pergerakan penumpang di angkutan umum seperti MRT. Dari kapasitas yang memuat 390 penumpang, dikatakan Syafrin, saat ini hanya 100 penumpang yang bisa diangkut selama penerapan ganjil-genap.

"Contohnya untuk MRT. MRT sebelum diterapkan ganjil genap satu rangkaian ratangga itu mampu menampung 390 penumpang, tapi pada jam sibuk maksimum penumpang yang bisa diangkut itu naik itu hanya sekitar 100 penumpang. Artinya, hanya sekitar 30 persen dari tempat duduk yang tersedia setelah physical distancing itu yang terisi," tuturnya.

Syafrin menjabarkan, pada angkutan umum TransJakarta, Pemprov DKI menambah tempat duduk hingga 25 persen. Maka, menurut Syafrin, belum terjadi peningkatan penumpang secara signifikan di TransJakarta.

"Namun pada saat kami akan menerapkan ganjil-genap maka jumlah tempat duduk yang ada di TransJakarta itu kami tambah 25 persen lagi. Jadi artinya tadinya di sebelum ganjil-genap diterapkan kapasitas yang tersedia terisi hanya 60 persen, setelah ganjil genap ditambah lagi 25 persen kapasitasnya sehingga secara keseluruhan kenaikan rata-rata 4 persen di angkutan umum itu belum terjadi peningkatan yang signifikan ditinjau dari kapasitas yang tersedia," tuturnya.

Sementara itu, Syafrin menyebut, untuk penumpang KRL, mereka senantiasa diharuskan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Jika tidak, penumpang tidak diizinkan naik oleh petugas.

"Kemudian saya sampaikan bahwa justru di angkutan umum penerapan protokol kesehatan kita itu sangat. Jika tidak menggunakan masker maka tidak boleh naik, langsung ditolak oleh petugas, langsung silakan. Jika ada persediaan masker di halte di stasiun itu pasti diberikan masker untuk digunakan," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2