Soal Menag Sebut Radikalisme, Apa Pengertiannya?

Rosmha Widiyani - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 16:55 WIB
Menag Fachrul Razi hadiri rapat bersama Komisi VIII DPR. Sejumlah hal dibahas di rapat itu, salah satunya soal upaya pencegahan virus corona untuk jemaah haji.
Foto: Lamhot Aritonang/Soal Menag Sebut Radikalisme, Apa Pengertiannya?
Jakarta -

Kalimat Menag sebut radikalisme sempat muncul di mesin pencarian Google pada Jumat (4/9/2020). Salah satu artikel yang muncul yakni Menag mengungkapkan strategi paham radikal masuk ke lingkungan ASN dan masyarakat melalui agen radikalisme, yang merupakan pemuda hafal Al Quran (hafiz) hingga berparas menarik (good looking).

"Dikirimkan anak good looking menguasai Bahasa Arab, hafiz, ikut jadi imam, orang orang situ bersimpati, hingga diangkat jadi pengurus masjid. Lalu mulai masuk temannya dan ide-ide yang tadi kita takutkan," kata Menag dalam webinar Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara, yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB pada Rabu (2/9/2020).

Menag dan radikalisme juga muncul pada pesan pendek dari Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas, yang diterima detikcom pada Jumat (4/9/2020). Menurutnya, saat ini tidak ada yang setuju dengan radikalisme. Namun seharusnya yang harusnya jadi perhatian Menag yakni penyebab paham tersebut terus muncul.

"Menag kalau berbicara ujung-ujungnya radikalisme. Dan yang kena ujung-ujungnya umat islam. Kita memang tidak setuju dengan radikalisme karena ujung-ujungnya tidak mengenakkan bagi banyak pihak terutama pihak tertentu. Tetapi mestinya Menag juga mempersoalkan kenapa muncul radikalisme?" kata Anwar yang menulis diri sebagai pemerhati masalah sosial, ekonomi dan keagamaan.

Ramai disebut, apa sebetulnya pengertian radikalisme?

Pengertian radikalisme dalam situs Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki tiga arti. Radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, atau sikap ekstrem dalam aliran politik.

Selain itu, pengertian radikalisme yang lain adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Dengan pengertian radikalisme tersebut, maka Anwar menyatakan penyebab paham tersebut muncul adalah ketidakadilan, diskriminasi, dan sifat tercela.

Pengertian radikalisme dan wujudnya di masyarakat bisa dihilangkan, bila praktik yang tidak terpuji tersebut tidak ada lagi. Masalah radikalisme juga bisa dihentikan dengan peran aktif dan kerja sama dari seluruh pihak.

"Mari bersama-sama untuk saling mendukung, saling memberi semangat untuk bangkit bersama, apa yang kita perlukan untuk menghadapi potensi ancaman tersebut adalah kebersamaan, ketika masyarakat berani dan bersatu menjadikan terorisme sebagai musuh bersama, maka kedamaian akan terjamin," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar dilihat di situs BNPT.

Dalam tulisan berjudul Mereduksi Radikalisme dengan Jalan Moderasi dari Ferdiansyah Jy, moderasi menjadi salah satu cara menangani pengertian radikalisme dan wujudnya di masyarakat. Jika radikalisme adalah bagian dari keniscayaan manusia maka mereduksinya bukan dengan deradikalisme.

Tulisan yang dimuat dalam majalah jalandamai yang bisa diunduh di situs BNPT, radikalisme menjadi persoalan yang harus terus dilawan dengan narasi moderasi. Bukan dengan menghilangkan radikalisme itu sendiri.

(row/pal)