Indonesia Kecam Tindakan Provokatif Pembakaran Al-Qur'an di Norwegia-Swedia

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 15:14 WIB
Menlu Retno Marsudi (Dok Kemlu)
Foto: Menlu Retno Marsudi (Dok Kemlu)
Jakarta -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengecam aksi penistaan kitab suci Al-Qur'an di Swedia dan Denmark. Retno menilai aksi itu tindakan provokatif dan melukai umat muslim dunia.

"Beberapa rangkaian tindakan atau aksi pembakaran dan perusakan Al-qur'an di Swedia dan Denmark serta publikasi kembali
kartun Nabi Muhammad oleh tabloid Charlie Hebdo. Indonesia mengecam keras semua tindakan ini," ujar Retno dalam video konferensi yang diterima, Jumat (4/9/2020).

Retno mengatakan tindakan ini berpotensi menyebabkan perpecahan antar-umat beragama di dunia. Aksi pelecehan kitab suci ini juga dinilai bertentangan dengan nilai demokrasi

"Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab, provokatif, dan telah melukai ratusan juta umat Muslim di dunia," ucapnya.

"Semua tindakan ini bertentangan dengan prinsip dan nilai demokrasi dan berpotensi menyebabkan perpecahan antar umat beragama di tengah dunia memerlukan persatuan untuk menanggulangi pandemi covid-19," imbuhnya.

Diketahui, sejumlah rangkaian penistaan Al-Qur'an dan Islam terjadi di beberapa negara yakni Swedia, Norwegia, Denmark. Pertama, kerusuhan di Swedia terjadi setelah seorang politikus asal Denmark, Rasmus Paludan, yang dikenal anti-Muslim dilarang untuk menghadiri aksi pembakaran Al-Qur'an di Swedia. Ada sekitar 300 orang turun ke jalanan wilayah Malmo melemparkan batu ke arah polisi dan membakar ban pada Jumat (28/8).

Sementara demo rusuh di Norwegia diwarnai aksi meludahi Al-Qur'an. Seperti dilansir media Jerman, DW, Minggu (30/8), kerusuhan di Oslo itu terjadi pada hari Sabtu (29/8) waktu setempat. Unjuk rasa yang diorganisasi oleh kelompok Stop Islamisation of Norway (SIAN) tersebut berlangsung di dekat gedung parlemen.

Lalu, ada juga majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, menerbitkan ulang karikatur Nabi Muhammad dalam edisi Rabu (2/9) waktu setempat, dimaksudkan untuk menandai dimulainya persidangan terhadap para tersangka penembakan brutal di kantor Charlie Hebdo di Paris pada Januari 2015 lalu.

(zap/imk)