Round-Up

Kala Para Menteri Susun Strategi Respons Al-Qur'an Dibakar di Luar Negeri

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 03 Sep 2020 07:31 WIB
Aparatur Sipil Negara (ASN) yang suka menggunakan media sosial diimbau lebih hati-hati jangan sampai terpapar paham radikalisme. Tidak hanya akan diperiksa dan diberi sanksi, yang bersangkutan juga akan berhadapan dengan pihak berwenang sesuai hukum yang berlaku.
Menag Fachrul Razi (Andhika Dwi/detikcom)

Sebelum ini, Komisi VIII DPR geram atas kejadian penodaan kitab suci Al-Qur'an saat demonstrasi di Norwegia dan Swedia. Kejadian itu dinyatakan tidak bisa ditoleransi.

Hal ini disampaikan Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto dalam rapat kerja bersama Menteri Agama Fachrul Razi di ruang rapat Pansus B, MPR/DPR RI, pada Rabu (2/9). Terdengar, nada suara Yandri tampak geram saat menyampaikan hal itu.

"Kami selaku Komisi VIII ingin menyampaikan, Pak, beberapa hari lalu ada demonstrasi di Norwegia dan Swedia tentang pembakaran kitab suci Al-Qur'an. Tentu Kami mengutuk keras dan itu tidak bisa kita toleransi," kata Yandri.

Yandri mendesak Fachrul melakukan komunikasi kepada Duta Besar Norwegia dan Swedia agar membuat permohonan maaf terhadap umat Islam di dunia. Dia juga ingin agar situasi toleransi beragama dalam negeri tetap stabil.

"Oleh karena itu, kita harus menjaga kondisi yang stabil dalam negara kita ini supaya tidak ada efek yang bisa membuat kontraksi sosial menjadi berlebihan. Karena itu kita minta mungkin Pak Menteri bisa komunikasi ke dubes Swedia dan Norwegia. Kalaupun nanti ada respons dari umat Islam di Indonesia saya kira tidak ada salahnya duta besar Norwegia dan Swedia minta maaf ke umat Islam," jelasnya.

Fachrul pun saat itu menjawab respons dari Komisi VIII DPR RI. Dia pun berjanji Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah untuk merespons peristiwa tersebut.

"Tentang masukan Bapak tadi. Dengan hormat kami akan tindaklanjuti tentang pembakaran kitab suci Al-Qur'an pasti kami pasti akan beri langkah-langkah yang paling bijak, tapi tidak menimbulkan gejolak di dalam, tapi memang harus ada reaksi yang cukup signifikan untuk ini," ujar Fachrul.

Halaman

(maa/dwia)