STNK Mobil BMW X5 Milik Pinangki Turut Disita Kejagung Saat Penggeledahan

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Kamis, 03 Sep 2020 00:25 WIB
Pengacara jaksa Pinangki Sirna Malasari, Jefri Moses, di gedung Bundar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung (Tiara Aliya/detikcom)
Foto: Pengacara jaksa Pinangki Sirna Malasari, Jefri Moses, di gedung Bundar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung (Tiara Aliya/detikcom)
Jakarta -

Tim penyidik dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) telah menyita mobil BMW X5 milik Pinangki Sirna Malasari. Disamping itu, tim kuasa hukum jaksa cantik itu menyebut penyidik turut membawa STNK mobil mewah tersebut.

"Kalau dari yang saya terima dokumennya mobil dan STNK saja, kebetulan tadi saya tanda tangani dokumen penyerahan STNK. STNK mobil yang sudah disita tadi," kata Pengacara Pinangki, Jefrie Moses kepada wartawan di Gedung Bundar Jampidsus, Jl. Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2020).

Namun, Jefri mengaku tidak tahu menahu soal temuan pelat nomor lain di dalam mobil. Bahkan, tutur Jefri, ia baru mengetahui hal ini ketika penyidik menggeledah isi mobil pada Selasa (1/9) lalu.

"Saya tahu hanya di berita, tapi pada saat mobil itu dibawa kan kita nggak tahu ya kan. Waktu disini kan kita baru dengar dari berita ada plat jadi sejak awal kita nggak tahu ada plat. Dari tim penasihat hukum tidak ada yang tahu, karena mobil dibawa pas digeledah disini jiwa kita nggak ada yang saksikan," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) menyebutkan mobil BMW seri X5 yang disita dalam kasus dugaan suap terkait percobaan pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) untuk Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra baru dibeli tahun ini. Mobil itu disita terkait jeratan pencucian uang untuk Pinangki Sirna Malasari.

"Mobil itu dibeli di tahun 2020 sehingga ada dugaan bahwa mobil itu dibeli dari hasil kejahatannya," ujar Hari Setiyono selaku Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Hari Setiyono kepada wartawan, Rabu (2/9/2020).

Pinangki sendiri diduga menerima suap dari Djoko Tjandra berkaitan dengan upaya pengurusan fatwa ke MA agar Djoko Tjandra, yang sebelumnya merupakan buron perkara pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, tidak dieksekusi oleh Kejaksaan. Tapi pada akhirnya tidak berhasil.

(dwia/dwia)