Pelaku Tambang Ilegal Hutan Lindung di Babel Divonis 4,5 Tahun

Deni Wahyono - detikNews
Selasa, 01 Sep 2020 22:47 WIB
Azeman (44) pelaku perambahan dan perusakan lingkungan di Pulau Bangka divonis 4,6 tahun kurungan dan denda Rp 3 miliar oleh Pengadilan Negeri Koba Kabupaten Bangka Tengah
Foto: Azeman (44) pelaku perambahan dan perusakan lingkungan di Pulau Bangka divonis 4,6 tahun kurungan dan denda Rp 3 miliar oleh Pengadilan Negeri Koba Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung ( Dok. KLHK).
Bangka Belitung -

Azeman (44) pelaku perambahan dan perusakan lingkungan di Pulau Bangka divonis 4 tahun 6 bulan kurungan dan denda Rp 3 miliar oleh Pengadilan Negeri Koba Kabupaten Bangka Tengah. Azeman dinyatakan hakim bersalah karena terbukti melakukan penambangan ilegal di kawasan hutan lindung Desa Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung (Babel).

Vonis atau putusan pidana Pengadilan Negeri Koba itu tertuang pada nomor: 81/Pid.B/LH/2020/PN.Kba tanggal 19 Agustus 2020. Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan 2 tindak pidana sekaligus, yaitu melakukan penambangan di dalam Kawasan hutan tanpa izin Menteri dan kedua, dengan sengaja mengakibatkan dilampauinya kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

Direktur Penegakan Pidana KLHK, Yazid Nurhuda mengapresiasi Majelis Hakim PN Koba yang berpihak kepada lingkungan hidup (in dubio Pro Natura). Menurutnya, putusan Majelis Hakim PN Koba ini merupakan putusan Ultra Petita yaitu lebih berat dari tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum.

"Putusan ini sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya, pelaku kejahatan lingkungan hidup dan kehutahan dipidana berlapis. Walaupun sebenarnya kami mengharapkan pelaku dihukum lebih berat lagi yaitu hukuman maksimal, baik pidana penjara maupun denda agar ada efek jera," ujar Yazid Nurhuda kepada detikcom melalui keterangan tertulis, Selasa (1/9/2020) malam.

Yazid menjelaskan bahwa penyidik KLHK mempersangkakan Azeman dengan menggunakan 2 Undang-Undang "multidoor". Penerapan multidoor atau pidana berlapis ini agar ada efek jera. Pelaku kejahatan seperti sudah sepantasnya dihukum seberat-beratnya.

Penyidik dari Kantor Ditjen Gakkum KLHK Jakarta menyidik kejahatan penambangan dikawasan hutan lindung tanpa izin yang dilakukan oleh Azeman menggunakan UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Pasal 89 Ayat 1 Huruf a Jo. Pasal 17 Ayat 1 Huruf b dengan ancaman hukum pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda paling sedikit Rp.1,5 Milliar dan paling banyak Rp.10 Milliar.

Sedangkan penyidik dari Balai Gakkum KLHK wilayah Sumatera menjerat kejahatan perusakan lingkungan dikawasan hutan lindung yang dilakukan oleh Azeman dengan menggunakan UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 98 Ayat 1 dan/atau Pasal 99 Ayat 1 Jo. Pasal 69 Ayat 1 Huruf a dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun serta denda paling sedikit Rp 3 Milliar dan paling banyak Rp 10 Miliar.

"Gakkum KLHK tidak berhenti untuk menindak kasus ini secara tuntas. Kami menyakini masih ada pihak lain yang terlibat. Saat ini penyidik KLHK sedang mendalami pihak-pihak lainnya yang terlibat dalam kasus ini. Kami sedang membahas tindak lanjut kasus ini dengan melibatkan para ahli untuk mendapatkan bukti-bukti keterlibatan pihak lainnya," kata Yazid.

(aik/aik)