Round-Up

Polemik 'Pulau' di Buton Masuk Situs Jual-Beli Gegara Salah Ketik

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 21:04 WIB
Pasangan lansia La Hasa dan Wa Zifa penghuni Pulau Pendek di Buton, Sultra (Siti Harlina-detikcom).
Foto: Pasangan lansia La Hasa dan Wa Zifa penghuni Pulau Pendek di Buton, Sultra (Siti Harlina-detikcom).
Jakarta -

Pulau Pendek, sebuah pulau kecil di wilayah perairan Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, viral di media sosial karena dijual di situs jual beli. Begini duduk perkaranya.

Pulau Pendek secara administratif terletak di Desa Boenotiro Barat, Kapontori, Kabupaten Buton. Kepala Desa Boenotiro Barat, Ilyas, awalnya menceritakan warganya tidak terima pulau mereka dijual.

"Hampir seluruh anak cucu (nenek moyang), baik kami yang di wilayah Kecamatan Kapontori maupun perantauan mau pulang, karena merasa kaget sekali (ada kabar Pulau Pendek dijual)," ujar Ilyas kepada detikcom, pada Minggu 30 Agustus 2020.

Ilyas menegaskan warga yang asli Pulau Pendek telah secara turun temurun bermukim di Pulau Pendek. "Ada kuburan nenek moyang kami di situ," katanya.

Ilyas menegaskan warga akan mempertahankan hak mereka atas pulau yang kini tengah dijual di situs jual beli. Warga juga sudah memiliki tradisi di Pulau Pendek, salah satunya setiap tahunnya berziarah ke makam nenek moyang mereka di pulau itu.

Warga pun segera melaporkan ke polisi pihak yang telah menjual Pulau Pendek ke situs jual beli.

Sekelumit kisah Pulau Pendek, ternyata pulau itu hanya dihuni oleh pasangan suami-istri lanjut usia, La Hasa dan Wa Zifa. Keduanya sudah puluhan tahun tinggal di pulau tersebut.

"Kalau pulau ini sejarahnya memang tanah adat," ujar La Hasa kepada detikcom, Minggu (30/8/2020).

Menurut La Hasa, dulunya Pulau Pendek dihuni banyak warga. Namun, pada 1971, pemerintah memindahkan warga di pulau itu ke wilayah daratan di Buton.

La Hasa, yang sudah lupa pada usia dan tahun lahirnya, mengaku juga pernah ikut warga meninggalkan Pulau Pendek. Namun, pada 2014, dia memutuskan kembali menghuni Pulau Pendek meski hanya berdua dengan istrinya.

"Sejak 2014 kembali ke sini. Ingin hidup di sini," ucapnya.

Di Pulau Pendek, La Hasa bersama istrinya memilih berkebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika tiba saat panen, ia pun pergi di daerah daratan untuk menjual hasil kebunnya. Ada 2 perahu yang menjadi andalannya untuk pergi ke daratan.

Ubi menjadi salah satu tanaman yang ditanami La Hasa di pulau tersebut. Dia juga menjadikan ubi sebagai makanan pokoknya. La Hasa juga mengaku kaget dan tidak menyangka saat mendengar kabar pulau akan dijual.

"Saya baru tahu kabar pulau ini akan dijual waktu hari Kamis tanggal 27, saya kaget," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2