Membaca Trend Globalisasi (25)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Akomodatif tetapi Kritis

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Selasa, 01 Sep 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Salah satu kekuatan ajaran Islam ialah mudah beradaptasi dan mengakomodir (tawaquf) dengan nilai-nilai lain tetapi tetap kritis. Tawaquf artinya berhenti mempersoalkan suatu masalah dengan cara mengambil salah satu opsi yang terbaik di antara berbagai opsi yang ada, meskipun opsi itu belum memuaskan semua pihak. Tawaquf juga berarti mengintegrasikan unsur-unsur kebenaran yang ada di dalam berbagai opsi lalu ditetapkan sebagai pegangan sementara. Jika pegangan itu sudah terbukti mendatangkan keharmonisan berbagai pihak maka pegangan ini bisa menjadi permanen dan legitimed. Tawaquf bisa menjadi jalan keluar terhadap sebuah masalah krusial yang terjadi di dalam masyarakat. Taqauf dalam Islam harus disertai dengan kriteria dan diterapkan secara kritis. Tawaquf tanpa kritis bisa menjebak kita ke dalam sikap sinkretisme, bid'ah, dan khurafat. Akan tetapi terlalu kritis dan menekankan keunggulan identitas bisa menyebabkan penolakan dan resistensi nilai-nilai lokal.

Sinkretisme ialah penggabungan beberapa nilai-nilai dari luar dengan nilai-nilai Islam yang selama ini dipegang. Sinkretisme yang ditekankan di dalam tulisan ini ialah sinkretisme agama, yaitu penggabungan beberapa paham atau aliran agama atau kepercayaan, diramu menjadi satu kesatuan dan bekerja sebagai suatu sistem nilai religious baru pada diri seseorang atau suatu masyarakat. Mungkin saja sinkretisme itu penggabungan satu atau beberapa agama sekaligus, sehingga tampak adanya sintesa antara suatu kelompok ajaran dan kelompok ajaran agama lain. Contohnya penggabungan antara ajaran Islam dengan aliran atau ajaran yang tidak sejalan dengan doktrin Islam sebagai agama tauhid. Contoh sinkretisme antara lain ialah gnosticisme yang mencampurkan antara filsafat Yunani, agama Yahudi dan agama Kristen di Eropa dan Amerika Utara. Ada juga aliran Buddha Mahayana yang merupakan pencampuran antara ajaran agama Budha dengan Hindu pemuja Dewa Syiwa. Dalam Islam praktek tarekat dan amalan tasawuf sering juga dituding mengakomodasi praktek sinkretisme karena sering dijumpai adanya kemiripan dengan praktik, misalnya metode meditasi sangat dekat dengan metode tafakkur dan tadzakkur.

Islam bukan sistem ideologi yang bisa dibentuk berdasarkan persepakatan sang users atau stekehorders. Islam yang oleh pemeluknya diyakini dari Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Mutlak, sehingga kelompok agama tertentu, khususnya agama-agama anak-anak cucu Nabi Ibrahim, yang biasa disebut Abrahamic Religions. Agama-agama ini mempertahankan orisinalitas ajaran agamanya karena mereka sangat yakin agama ini bukan ciptaan manusia tetapi turun dari langit, melalui nabi atau rasul, dan lebih khusus lagu memiliki kitab suci. Apa yang tertera di dalam kitab suci begitulah adanya sebuah agama, tidak perlu diotak-atik lagi.

Dalam Islam, sinkretisme ajaran bisa berimplikasi syirik, yaitu penyekutuan terhadap Tuhan. Sinkretisme bisa juga dianggap sebagai sebuah bid'ah dan khurafat. Seorang muslim tidak bisa mencampur ajaran agamanya dengan agama lain. Karena itu, ada sejumlah agama yang dipandang sebagai agama abal-abal, karena dimensi keislamannya tidak lagi utuh tetapi sudah mengakomodasi sejumlah praktek dan ajaran dari agama lain. Cotonya, agama Syik dan agama Bahai, meskipun terdapat persamaan tertentu bahkan diduga unsur persamaan itu adalah memang berasal dari ajaran Islam tetapi dipadukan dengan ajaran agama lain, sehingga Islam tidak mengakuinya sebagai agama Islam.

(nwy/nwy)