Membaca Trend Globalisasi (23)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Objektifitas Ilmuan Muslim

Prof Nasaruddin Umar - detikNews
Minggu, 30 Agu 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

dari mana pun datangnya, dari siapa pun asalnya, dari bentuk apa pun adanya, bahkan dia bersedia mengabdi kepada kebenaran itu dengan mengerahkan segenap jiwa raganya". Sejalan dengan pernyataan Al-Kindi, Nabi Muhammad Saw sudah pernah mengingatkan: "carilah ilmu pengetahuan itu walau sampai di tanah China". Hadis lain: "Hikmah itu ada di mana-mana, ambillah karena itu milik umat Islam yang tercecer".

Al-Qur'an sendiri memerintahkan hambanya untuk melakukan perjalanan keilmuan untuk memperoleh kearifan guna menjalani hidup ini dengan benar, tenang, dan bahagia: "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)". (Q.S. Ali 'Imran/3:137). Ayat ini menunjukkan betapa perlunya umat manusia bersifat terbuka menerima kebenaran, tanpa menutup diri dari sumber-sumber kebenaran lain yang bersumber dari diri seorang atau komunitas muslim.

Keilmuan Islam bukan berdiri sendiri tanpa membuka diri dari orang-orang lain, termasuk ilmuan non-muslim. Frans Rosenthal memuji etos kerja muslim yang terbuka, termasuk memberikan pengakuan orang lain, non-muslim, sebagai sumber kebenaran. Para ilmuan muslim di abad pertengahan melakukan pengembaraan ke berbagai Negara, seperti India, Yunani, dan sumber-sumber peradaban yang sudah mapan saat itu. Para ilmuan muslim jarang sekali wafat di tempat kelahirannya, tetapi wafat di medan penelitian atau di tempat pengabdian keilmuan. Keluhuran dan keterbukaan ilmuan muslim lebih terasa dari karya-karya mereka yang mengapresiasi ilmuan Yunani dan India.

Termasuk para ilmuan Islam yang datang ke Indonesia, banyak sekali di antaranya dari Timur Tengah dan Asia Barat dan Selatan. Para wali Songo dan para guru-guru mereka menghabiskan umurnya, hijrah secara fisik ke Indonesia. Tidak satu pun di antara mereka kembali ke negerinya, karena mereka sadar akan tanggung jawab dakwah dan keilmuan yang diembannya. Bahkan para rombongan dari negeri asak tidak wafat di sebuah tempat atau di sebuah pulau yang sama melainkan bertebaran, tidak bergelombol di suatu tempat. Para Wali Songo berjuang secara terpisah dan tempat wafatnya pun berbeda-beda satu sama lain.

Meskipun ilmuan muslim dianggap terbuka tetapi tidak berarti mereka kehilangan daya kritis di dalam mendalami setiap sumber. Ilmuan muslim berani mengkritisi atau memuji sebuah karya dari mana pun datangnya. Al-Kindi diriwayatkan pernah memarahi seorang pengarang Yunani yang karyanya hendak dirujuk. Ia memarahinya karena tidak menghormati etika keilmuan. Sesama ilmuan muslim, juga saling kritis. Ibn Sina dan Biruni pernah saling berdebat keras soal astronomi, fisika, matematik, sampai filsafat. Al-Biruni mengritik secara tajam aliran peripatetic dalam banyak segi segi yang didukung oleh Ibn Sina.

Keterbukaan dan saling mengkritik dalam dunia keilmuan merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan saat Nabi masih hidup pun juga sering terjadi perdebatan. Umar ibn Khaththab sahabat Nabi paling sering mengkritisi Nabi. Sering kali perbedaan pendapatnya dilerai oleh ayat yang turun khusus untuk mengklarifikasi perbedaan pendapat tersebut. Ironisnya, tidak sedikit ayat yang turun melerai perdebatan itu justru memihak kepada Umar, bukannya mendukung Nabi. Ayat-ayat tersebut pernah dijadikan disertasi oleh salah seorang mahasiswa program S3 Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ini membuktikan bahwa Allah Swt pun mentolerir perbedaan pendapat itu. Nabi juga pernah mengatakan "Perbedaan pendapat di antara umatku adalah rahmat". Seringkali dalam perbedaan itu lahir sintesa yang memudahkan kehidupan umat manusia. Allahu a'lam.

(nwy/nwy)