Round-Up

Jalan Politik Akhyar di Antara Mega-AHY

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 29 Agu 2020 08:35 WIB
Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution (Datuk Haris Molana-detikcom)
Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution (Datuk Haris Molana/detikcom)
Medan -

Jalan politik Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution begitu berliku. Tak didukung maju Pilkada Medan hingga dipecat oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dari partai, Akhyar kini mendapat dukungan dari Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Akhyar sebelumnya merupakan kader dan pengurus PDIP Sumatera Utara. Hubungannya dengan PDIP mulai memanas menjelang Pilkada Medan. Akhyar tak didukung PDIP hingga akhirnya pindah ke Demokrat, dan dipecat dari partai berlambang banteng itu.

Pilihan Akhyar menyeberang ke Demokrat ini mendapat sindiran dari Megawati. Menurut Megawati, Akhyar ngamuk gara-gara tak mendapat restu maju sebagai cawalkot Medan.

"Ada di Medan, dia masuk sebagai PDIP itu. Bayangkan, urusan rekomendasi itu sudah otorisasi saya, karena saya dipilih kongres partai. Semua mesti tahu itu," ujar Megawati saat membuka Sekolah Partai Angkatan II bagi Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah PDIP secara virtual, Rabu (26/8/2020).

PDIP memutuskan mendukung menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bobby Nasution, sebagai calon Wali Kota Medan. Bobby berduet dengan kader Gerindra, Aulia Rachman. Sejauh ini, koalisi pendukung Bobby-Aulia diisi oleh PDIP, Gerindra, PAN, Golkar, dan NasDem.

Kembali ke Megawati. Dia mengaku heran terhadap sikap Akhyar. Presiden RI ke-5 ini menilai Akhyar selaku kader PDIP saat itu harusnya paham hak prerogatif menentukan dukungan calon kepala daerah ada di tangannya sebagai Ketum PDIP.

"Kongres partai memberikan hak prerogatif, bukan mau-maunya saya, hak prerogatif pada saya. Mau dicabut nanti di kongres partai kalau tidak disetujui. Tidak direkom terus ngamuk. Lho saya mikir ini gimana. Katanya kader partai, ya sudah, aturan partainya gimana. Ya sudah, saya pecat. Saya pecat. Iya dong, fair," ujar Megawati.

Akhyar memang dipecat PDIP. Salah satu alasannya adalah tak loyal terhadap pimpinan partai.

Selanjutnya
Halaman
1 2