Wamen ATR Cerita Ngerinya Tekanan Urus Konflik Agraria

Ahmad Arfah - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 16:40 WIB
Rapat koordinasi pemberantasan korupsi di Sumatera Utara (Ahmad Arfah-detikcom)
Foto: Rapat koordinasi pemberantasan korupsi di Sumatera Utara (Ahmad Arfah-detikcom)
Medan -

Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/BPN, Surya Tjandra, bercerita masalah yang dihadapi Badan Pertanahan Nasional (BPN) saat mengurusi konflik agraria. Dia mengatakan ada petugas BPN yang dipanggil polisi hingga didatangi orang berpistol.

"Dua hari ini saya mendengarkan banyak cerita dari teman-teman BPN sendiri, bagaimana mereka harus menghadapi situasi yang penuh tekanan terkadang mengurusi agraria. Agraria urusan perdata dan publik, barangkali tata negara, tata usaha negara. Ada yang dipanggil oleh polisi, ada yang didatangi orang dengan pistol," tutur Surya dalam Rapat Koordinasi Pemberantasan Korupsi di Medan, Kamis (27/8/2020).

Surya mengatakan pihaknya harus melakukan semacam pertarungan untuk mengatasi persoalan agraria yang terjadi di Indonesia. Dia juga mengatakan ada rekannya membeli asuransi jiwa saat mengurus konflik agraria.

"Saya cuma membayangkan apakah memang agraria begitu susah sampai kita harus bertarung, bahkan teman teman saya sudah beli asuransi jiwa katanya. Saking situasinya seperti itu," ucapnya.

Surya kemudian bicara soal kebingungannya terhadap masalah agraria di Sumut. Dia mengatakan masalah agraria di Sumut sudah beberapa kali menjadi pembahasan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Saya barangkali juga nggak ngerti apa-apa situasi di sini, saya merasa kecil, saya mengerti situasi dan barangkali pertanyaan-pertanyaan ini kami diskusikan dengan Pak Kanwil. Kenapa ya masalah ini? Kenapa masalah ini begitu ramai? Hari ini ada demo lagi di Istana, harusnya Menteri dipanggil oleh Presiden bertemu dengan mereka tapi ditunda. Presiden sudah ratas beberapa kali, Pak Gubernur sudah diundang, khusus membahas soal ini," jelasnya.

Dia menyampaikan masalah agraria di Sumut menjadi yang paling banyak di Indonesia. Dia menduga permasalahan agraria di Sumut terjadi karena akses masyarakat terhadap tanah.

"Sumatera Utara berada di urutan nomor satu konflik agraria di seluruh Indonesia. Nah ada satu dugaan yang barangkali cukup valid, karena masyarakat limpahkan akses untuk tanah itu sendiri," paparnya.

(haf/haf)