Menko PMK: Rokok Sudah Mulai Menyerang Upaya Kita Membangun SDM

Antara News - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 14:10 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy seusai bertemu Presiden Jokowi di Istana.
Menko PMK Muhadjir Effendy Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof Muhadjir Effendy bicara soal keberadaan rokok yang menurutnya makin mengkhawatirkan. Rokok menurut Muhajir mulai menyerang anak sejak masa prenatal atau ketika berada dalam kandungan ibu.

"Rokok ini sebetulnya sudah mulai menyerang upaya kita untuk membangun sumber daya manusia Indonesia sejak masa prenatal," kata dia saat diskusi daring dengan tema 'Tingkat prevalensi peningkatan merokok pada kategori anak di Indonesia: Efek harga dan efek teman sebaya' seperti dilansir Antara, Kamis (27/8/2020).

Ia mengatakan hal itu terjadi karena pada saat anak masih berada dalam kandungan ikut terpapar dari orang tuanya yang merokok. Meskipun ibunya tidak merokok namun bisa terpapar dari ayahnya yang perokok aktif.

"Orang tua perokok punya dampak yang sangat serius terhadap janin yang dalam kandungan seorang ibu," katanya.

Oleh karena itu, menurut Muhadjir semua pihak perlu mewaspadai praktik merokok di dalam lingkungan keluarga. Secara umum siklus pembangunan manusia dan kebudayaan Indonesia dimulai dari masa prenatal, 1.000 hari pertama kehidupan, usia dini dan anak-anak, remaja hingga dewasa.

"Setiap tahapan masa pertumbuhan anak terdapat perintang atau halangan salah satunya dipengaruhi oleh rokok," kata eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tersebut.

Muhadjir mengatakan dalam waktu bersamaan pemerintah juga terus berupaya memperbaiki sumber daya manusia salah satunya menekan angka stunting hingga 14 persen pada 2024. Sebab, lanjut Muhadjir, stunting menjadi program Presiden Jokowi sehingga perlu mendapatkan perhatian serius.

Saat ini angka stunting di Tanah Air masih di atas 27 persen. Jika angka kelahiran per tahun sekitar 4.800.000 maka 27 persennya adalah stunting.

"Jadi kalau ada 10 bayi lahir kira-kira dua hingga tiganya adalah stunting," katanya.

Muhadjir menambahkan target penurunan stunting 14 persen pada 2024 memang cukup tinggi dalam upaya pembangunan manusia dan kebudayaan. Namun, hal itu harus dilakukan termasuk mengatasi faktor perintang salah satunya masalah rokok.

(hri/fjp)