Ini Kata DPRD Soal Dibukanya Kembali Kebun Binatang Surabaya

Angga Laraspati - detikNews
Senin, 24 Agu 2020 18:28 WIB
DPRD Surabaya
Foto: istimewa
Jakarta -

Kebun Binatang Surabaya (KBS) kembali dibuka mulai 27 Juli 2020. Pengelola dinilai sudah siap menjalankan protokol kesehatan di kawasan KBS.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony menilai pembukaan Kebun Binatang Surabaya (KBS) bukan faktor terkait mencari retribusi, namun memberikan alternatif diwaktu masyarakat berbulan-bulan bertahan di rumah.

"Saya yakin tidak karena butuh retribusi, bukan itu. Tetapi lebih kepada memberikan penghiburan pada masyarakat yang sudah berbulan-bulan jenuh, kemudian mereka (masyarakat) untuk tetap di rumah," kata AH Thony dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2020).

Selain pertimbangan tersebut, ada pertimbangan lain yakni tentang pergerakan ekonomi dan juga perawatan satwa yang ada di KBS setelah berbulan-bulan tutup selama pandemi.

"Baru kemudian pertimbangan berikutnya mungkin kebutuhan Kebun Binatang Surabaya yang memang untuk mencukupi permakanan, perawatan yang ada disini bukan adalah persoalan yang kecil, bukan angka yang kecil, sangat besar," ungkap Thony.

Thony juga mengkhawatirkan kondisi keuangan kebun binatang menjadi sangat sulit, yang akhirnya mengganggu perawatan satwa KBS. Meski, menurutnya pihak pengelola tidak menyampaikan kesulitan dalam melakukan perawatan.

"Tetapi kita sudah menduga bahwa efisien-efisien dilakukan dalam rangka untuk mencukupkan dana yang ada. Dari tadi yang kita gali dari Pak direktur ada beberapa keberuntungan, momen-momen yang terakhir seperti libur (sekolah) anak, tahun baru. Kemudian hari raya itu ada ledakan pengunjung yang bagus sebelum pandemi itu menjadi saving yang cukup baik," ujar Thony.

"Tetapi empat bulan itu, tidak ada pemasukan karena ditutup. Empat bulan operasionalnya ndak kecil itu menyedot biaya yang sangat besar," tambahnya.

Thony menegaskan, dengan dibukanya kembali KBS ini, bukan semata-mata karena KBS membutuhkan uang dari masyarakat dengan dibukanya kembali setelah beberapa bulan tutup. Namun untuk penyelamatan konservasi satwa di dalamnya.

"Masyarakat yang memiliki kepedulian bisa saja berkontribusi kepada KBS, bukan berarti KBS butuh duit ini ndak, ini dalam rangka penyelamatan konservasi yang ada di dalamnya," imbuh Thony.

Selain itu, dengan penerapan protokol COVID di KBS ini, Thony menilai, membutuhkan biaya yang cukup besar. Meski pihaknya tidak merincikan dengan detail berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyiapkan instalasi cuci tangan serta tenaga pengurai kerumunan yang dengan luasan 10 hektar ini.

"Ini, bukan pekerjaan yang gampang, begitu kami mendengarkan penjelasan pak direktur mutlak KBS ini, perlu dukungan dari banyak pihak. Kita minta pemerintah memperhatikan zona-zona kampung, tetapi kampung observasi ini juga mendapatkan perhatian," pungkas Thony.

(ega/ega)