BPOM-Kemenristek Apresiasi Unair soal 'Obat Kombinasi COVID-19'

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 19 Agu 2020 15:54 WIB
Universitas Airlangga (Unair) tidak bertanggung jawab atas klaim dua penelitinya yang menyebutkan suplemen temuan mereka bisa membantu tubuh melawan virus coorona. Seperti yang disampaikan Warek 4 Bidang Bisnis dan Alumni Unair, Prof Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt.
Universitas Airlangga (Esti Widiyana/detikcom)
Jakarta -

Kepala Badan POM Penny K Lukito mengapresiasi Universitas Airlangga (Unair) atas temuan obat kombinasi baru untuk Corona (COVID-19). BPOM memastikan memberikan pendampingan dan monitoring terhadap uji klinik obat kombinasi Corona ini.

"Kami menyampaikan apresiasi, tentunya pada upaya yang dilakukan secara bersama Universitas Airlangga sebagai tim peneliti yang sponsor, dan inisiator penelitian ini. Ini adalah tentunya upaya kita bersama menemukan obat untuk menghadapi krisis pandemi COVID-19, dan tugas dari Badan POM tentunya untuk mendampingi, dan memastikan obat yang diproduksi, diizinkan dan diedarkan oleh masyarakat adalah obat dan vaksin yang aman, bermutu, dan berikan efek tentunya, berikan khasiat," ujar Penny saat konferensi pers 'Perkembangan Uji Klinik Obat Kombinasi baru untuk COVID-19 hasil kerja sama TNI AD, BIN, dan Unair', melalui siaran YouTube Badan POM RI, Rabu (19/8/2020).

Penny mengatakan BPOM sebagai badan yang memberi pendampingan dan izin obat telah memberikan respons cepat atau izin emergency research terhadap beberapa obat yang sedang melakukan uji klinis. Dengan harapan obat penyembuh Corona bisa ditemukan di Indonesia.

"Jadi aspek komitmen Badan POM untuk memberikan pendampingan percepatan kami lakukan secara committed tentunya. Namun tentunya sebagai bagian tugas Badan POM dalam angka perlindungan kita sebagai suatu bangsa, kita memastikan bahwa proses uji klinis, proses riset, proses uji klinis dari setiap obat dan vaksin berlangsung dengan mengikuti tata cara kaidah saitifik yang sesuai standar, yang berlaku secara internasional tentunya," ucapnya.

Terkait dengan riset Unair, BPOM juga sudah memberikan catatan-catatan perkembangan dan kritik mengenai uji klinis obat ini. Dia menyebut catatan dan kritik seperti ini adalah hal biasa dalam riset obat. Hal ini, kata Penny, dilakukan agar obat kombinasi Unair ini berkualitas dan bermutu.

"Dikaitkan dengan uji klinis dari obat kombinasi yang dilakukan tim Unair, ini dalam inspeksi yang kami lakukan per tanggal 28 Juli 2020, kami temukan beberapa gap, ada beberapa temuan-temuan yang sifatnya kritikal, mayor, minor, temuan kritikal terutama dampaknya validitas dari hasil yang nanti akan didapatkan dan itu jadi perhatian Badan POM, sebagaimana pelaksanaan uji klinis pada umumnya," katanya.

"Bahwa memang sebetulnya biasa juga pada penelitian seperti itu ada hal-hal yang harus dilaporkan, dikoreksi, disampaikan pada yang memberikan izin, kemudian yang memberikan izin memonitor, menginspeksi mengkoreksi, dan nanti tentunya ada perbaikan harus disampaikan kepada yang memberikan uji klinis tersebut, yaitu Badan POM yang memonitor," sambungnya.