Dampak Sekolah Daring, Guru Harus Datangi Siswa Tak Punya HP di Pelosok Jambi

Ferdi Almunanda - detikNews
Selasa, 18 Agu 2020 11:58 WIB
Guru datangi siswa di pelosok Jambi (Ferdi-detikcom)
Foto: Guru datangi siswa di pelosok Jambi (Ferdi-detikcom)
Jambi -

Kegiatan belajar mengajar tatap muka belum dilakukan di sekolah-sekolah di Batanghari, Jambi, gara-gara pandemi Corona (COVID-19). Hal ini membuat para guru harus melakukan usaha ekstra agar para siswanya di pelosok desa tetap bisa belajar walau tak punya ponsel untuk belajar secara daring.

Salah satu guru yang berjuang ekstra mendatangi satu per satu rumah siswanya yang tak punya ponsel adalah Syafyendri. Guru IPS di SMPN 7 di Desa Selat, Batanghari ini setidaknya harus mendatangi 11 orang siswanya yang tak punya ponsel ataupun tak mampu membeli kuota internet agar tetap bisa belajar.

"Ada 11 siswa yang harus saya datangi ke rumahnya lantaran ada yang tidak memiliki handphone, lalu keterbatasan sinyal maupun kesulitan membeli kuota. Saya harus menjangkau rumah-rumah mereka semuanya agar tidak ada yang ketinggalan mata pelajaran," kata Syafyendri, Selasa (18/8/2020).

Syafyendri menceritakan dirinya sempat kesulitan mencari rumah para siswanya itu. Penyebabnya, rumah para siswanya itu masuk ke pelosok desa. Dia pun harus bertanya dari satu warga ke warga lain agar bisa mengetahui rumah muridnya.

"Saya mencari alamatnya dengan bertanya kepada teman sekelasnya yang satu desa sampai bertanya ke warga sekitar tempat siswa tinggal," ujar Syafrendri

Dia mengatakan sistem belajar dengan mendatangi rumah-rumah siswa harus dilaksanakan agar target pembelajaran tercapai. Dia menekankan pendidikan merupakan hak semua orang sehingga tak ada alasan bagi para siswanya tak kebagian ilmu hanya gara-gara tak punya gawai.

"Prinsip saya adalah bahwa pendidikan itu untuk semua, jangan ada yang ketinggalan, tidak masalah jika harus menempuh perjalanan dengan cara mengunjungi rumah-rumah siswa yang tidak memiliki handphone. Yang terpenting tugas saya sebagai guru untuk memastikan siswa mendapatkan pembelajaran terpenuhi secara maksimal," kata Syafyendri.

Dia menyebut ada 23 siswa yang diajarnya. 11 orang di antaranya tidak memiliki gawai ataupun kesulitan membeli kuota hingga tak mendapat sinyal di rumah.

"Jadi rumah siswa ada yang berdekatan ada pula yang berjauhan. Maka dari itu jika rumahnya ada yang berdekatan maka mereka saya kumpulkan di salah satu rumah mereka agar terkondisikan ketika saya kunjungi. Tetapi tetap harus memakai masker dan jaga jarak," ucapnya.

"Hati ini bahagia kalau bisa membantu siswa saya, apalagi yang memiliki keterbatasan ekonomi," sambungnya

Dia berharap pandemi Corona segera bisa diatasi. Syafyendri juga berharap sekolah bisa segera dibuka seperti sebelum Corona menyerang.

"Tidak muluk-muluk, semoga wabah Corona segera berakhir dan siswa kembali masuk sekolah, selamat HUT RI yang ke-75," pungkasnya.

(haf/haf)