Round-Up

Cerita Kelam Pembunuhan Mahasiswi S2 Unram

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 15 Agu 2020 06:17 WIB
Polisi mengungkap misteri kematian mahasiswi S2 yang jasadnya ditemukan tergantung di ventilasi rumah di NTB.
Foto: Polisi mengungkap misteri kematian mahasiswi S2 yang jasadnya ditemukan tergantung di ventilasi rumah di NTB. (Istimewa)

Cekcok kembali terjadi setelah orang tua pelaku menelepon. Pelaku diminta pulang ke Janapria, Lombok Tengah. Orang tua pelaku menelepon tiga kali, tiga kali juga pelaku meminta izin kepada korban untuk pulang.

Korban tak mengizinkan pelaku pulang, cekcok kembali terjadi. Pelaku kesal ketika korban mengancam dengan anak panah. Sambil berkata jangan macam-macam, pelaku mencekik leher korban menggunakan tangannya pada Kamis (23/7/2020) sekitar pukul 19.30 Wita.

"Rio terus mencekik sampai korban jatuh ke karpet di rumah tersebut. Pelaku tetap mencekik leher korban sampai tidak sadarkan diri. Tubuh perempuan yang baru lulus seleksi program Pascasarjana Fakultas Hukum Unram itu tidak bergerak lagi," papar Artanto.

Beberapa saat kemudian, pelaku termenung memandangi tubuh kekasihnya yang tidak lagi bergerak. Lalu timbul niat pelaku untuk menghilangkan jejak.

Pelaku keluar dari jendela rumah dan pergi ke daerah Jempong untuk membeli tali. Tapi tali baru didapat di sekitar daerah Kekalik. Pelaku kembali ke TKP pembunuhan, lalu menggantung jenazah, membuat seolah korban bunuh diri.

Setelahnya, pelaku berkemas dan pulang ke Lombok Tengah menggunakan sepeda motor. Di tengah jalan, pelaku membuang sisa tali dan baju yang digunakan mengelap keringat di tubuh korban.

Polisi sudah menahan tersangka Rio. Sejumlah barang bukti diamankan, seperti satu unit sepeda motor pelaku, tali bahan nilon, cincin bertuliskan Rio, tali warna oranye, pisau dapur, diary kecil, 2 lembar tiket pesawat atas nama Rio, 1 tas selempang, 1 bendel hasil rapid test atas nama Rio, dan 1 buah tas selempang milik korban.

"Akibat perbuatannya, Rio terancam dijerat Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Subpasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara," sebut Artanto.

Halaman

(fas/maa)