Mendagri Soroti Tracing Kota Depok Masih Sedikit, Ini Penjelasan Pemkot

Jehan Nurhakim - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 22:54 WIB
Dadang Wihana
Jubir Gugus Tugas Kota Depok Dadang Wihana (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian sempat menyoroti Wali Kota Depok M Idris terkait rasio tes PCR COVID-19 di Depok yang masih sedikit. Pihak Pemkot Depok, dalam hal ini Gugus Tugas Kota Depok, beralasan pihaknya terkendala biaya pemeriksaan yang cukup mahal.

"Betul, kita akui bahwa swab test saat ini belum sesuai dengan jumlah yang diharapkan. Katakanlah target 3 persen saja dari jumlah penduduk, kalau penduduk Depok 2,4 juta, 3 persen sama dengan 72 ribu kan. Maka lebih-kurang Rp 72 miliar yang dibutuhkan. Karena indeks rata-rata untuk PCR ini Rp 1 juta per satu orang. Kalau 5 persen itu Rp 125 miliar. Jadi cukup mahal," kata juru bicara Gugus Tugas Kota Depok Dadang Wihana saat dihubungi detikcom, Jumat (14/8/2020).

"Kita berikhtiar meningkatkan swab test. Tapi, kalau dilihat dari data bersatu lawan COVID dari satgas pusat, daerah-daerah, kota di Jawa Barat juga mengalami hal serupa. Jadi tidak hanya terjadi Kota Depok karena memang tadi kapasitas fiskal daerah sangat terbatas," sambungnya.

Dadang pun menyebut ke depannya akan menyesuaikan dari standar World Health Organization (WHO). Dia menyebut pihaknya akan menyesuaikan standar WHO yakni 1 per 100 ribu penduduk.

"Rencana kan begini, melihat standar WHO. Standar WHO 1 per 100 ribu penduduk, per minggu. Itu yang rumus itu yang akan kita pakai. Jadi dalam satu bulan kita berapa persen target kita capai. Jadi kita akan merujuk parameter yang dikeluarkan WHO. WHO kan merujuknnya mingguan. Mingguan itu berapa dalam seminggu kemampuan swab test kita," tuturnya.

Seperti diketahui, Mendagri Tito sempat menyoroti soal data COVID-19 di Kota Depok. Menurutnya, meski ada kemajuan di Depok karena ada perubahan dari zona merah menjadi zona oranye, jumlah tes Corona masih terbilang sedikit.

"Positivity rate ada kemajuan. Entar dulu, saya mau tanya. Sampelnya berapa? 6.578. Jumlah penduduk berapa? Hampir 2 juta. (Jika) 6.578 per 2 juta ketemunya 0,03 persen. Artinya, yang di-sampling, yang diperiksa 0,03 persen, rendah sekali. Itu belum melambangkan populasi," ujarnya.

Intinya, Tito pun mengklaim penularan COVID-19 yang rendah di Depok belum bisa dijadikan tujuan. Sebab, jumlah pemeriksaan yang sangat sedikit belum menggambarkan keadaan secara menyeluruh.

"Berdasarkan ilmu metodologi, 0,03 persen itu tingkat kesalahannya tinggi sekali," tandasnya.

(maa/maa)