FK2PT Dorong Program Padat Karya-Bahan Baku Lokal di Industri Perikanan

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 17:21 WIB
Ratusan kapal nelayan bersandar di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Binuangeun di Lebak, Banten. Kapal-kapal itu bersandar di sana karena para nelayan tak melaut
Ilustrasi Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ketua Forum Komunikasi Kemitraan Perikanan Tangkap (FK2PT) Agus Suherman berpandangan, pandemi COVID-19 telah berdampak negatif terhadap semua sektor industri, tidak terkecuali industri hulu perikanan tangkap. Industri jaring, industri galangan kapal dan industri kepelabuhanan sebagai motor pendukung penangkapan ikan, nyaris terhenti imbas dari tertutupnya pasar produk perikanan.

"Untuk itu upaya pelaksanaan program padat karya dan penggunaan bahan baku lokal di industri hulu perikanan tangkap di era adaptasi kebiasaan baru harus tingkatkan," kata Agus dalam webinar FK2PT yang digelar pada Kamis (13/8/2020).

"program ini sejalan dengan imbauan Presiden Joko Widodo agar penggunaan produk dalam negeri perlu terus dijalankan dan ditingkatkan semaksimal mungkin melalui inovasi atau strategi yang terukur dan implementatif," sambungnya.

Saat ini, lanjut Agus, dengan pertumbuhan ekonomi yang minus di kuartal kedua, tentu akan menggerus ekonomi di sektor perikanan. Karena itu, dia menilai program padat karya dan penggunaan produk berbahan baku lokal bisa menggerakkan ekonomi mikro.

Selain itu, lanjut Agus, program padat karya bantuan perikanan perlu diperluas jenis dan ragamnya. Misalnya, alat tangkap usaha bubu lipat yang dikerjakan secara handmade oleh masyarakat. Kalau bantuan ini membeli produk lokal yang dikerjakan secara manual oleh banyak tenaga manusia, tentu dampaknya akan luar biasa menciptakan perputaran ekonomi mikro di desa.

"Tentu dengan terus menjaga protokol kesehatan," ucapnya.

Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB University Sugeng Hari Wisudo juga ikut memberikan pandangan. Menurutnya perlu strategi adaptif, strategi cerdas bagi para pelaku usaha industri hulu perikanan tangkap untuk menghadapi era new normal.

"Dampak pandemi telah menyebabkan pertumbuhan negatif pada semua sektor, kecuali sektor pertanian, infokom dan pengadaan air. Sektor yang paling terpengaruh adalah transportasi, pergudangan, serta akomodasi dan makan minum. Lapangan usaha perikanan yang termasuk dalam sektor pertanian, ternyata juga mengalami pertumbuhan yang negatif," ungkap Sugeng.

Namun demikian menurut Sugeng, selain dampak negatif, pandemi COVID-19 telah mendorong lompatan transformasi teknologi. Perusahaan-perusahaan harus dapat menerapkan smart adaptive strategy, strategi adaptif yang lincah untuk menghadapi turbulensi kompetisi lingkungan bisnis. Strategi adaptasi cerdas dalam cara pemasaran, cara menghasilkan produk atau jasa layanan, strategi adaptasi cerdas pada sistem basis data dan informasi, sistem logistik, bisnis terintegrasi dan bisnis berkelanjutan.

Sugeng menambahkan, perkembangan teknologi yang melejit selama pandemi COVID-19 akan berlanjut hingga masa depan. Era baru teknologi sudah mewarnai belanja dalam jaringan, pembayaran digital, teleworking, pelayanan medis jarak jauh, pendidikan dan pelatihan jarak jauh, hiburan daring, rantai pasokan 4,0, 3D printing, robot dan drone, dan teknologi 5D.

Arief Yudhi Susanto General Manager PT Arteri Daya Mulia, Cirebon salah satu perusahaan alat penangkapan ikan terkemuka di Indonesia menyatakan pandemi COVID-19 telah menurunkan order perusahaan mencapai 50% sebagai dampak dari menurunnya aktivitas penangkapan ikan. Di samping itu operasional perusahaan juga terhambat dengan berbagai permasalahan peningkatan biaya nonproduksi dan operasional seperti penyediaan hand sanitizer, masker dan disinfektan rutin untuk 2.200 karyawan yang saat itu harga barang-barang tersebut melonjak drastis.

Permasalahan perusahaan tidak berhenti di situ. Menurut Arief pemberlakuan PSBB di beberapa kota telah membatasi operasional agen-agen pemasaran di kota-kota tersebut, distribusi barang menjadi terhambat dan biaya ekspedisipun meningkat. Sementara itu kewajiban perusahaan tetap harus dibayarkan tanpa ada terobosan kebijakan pemerintah yang membantu. Apalagi pandemi ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dimana perusahaan harus membayar THR dan insentif karyawan.

La Anadi Dosen UHO sekaligus juga pemilik perusahaan galangan dan reparasi kapal fiberglass CV Wahana juga mengungkapkan hal yang sama.

"Aktivitas perusahaan nyaris terhenti, permintaan pembuatan kapal baru maupun reparasi hampir tidak ada. Perusahaan pun melakukan transformasi untuk mempertahankan usaha dengan mengubah fungsi galangan dengan membuat produk baru yaitu pembuatan tepung ikan, tepung udang, dan tepung rajungan untuk pakan ikan dan unggas," kata La Anadi.

Sementara Arief Hidayat Kepala Cabang Perum Perikanan Indonesia, Jakarta mencanangkan strategi optimalisasi pengusahaan kepelabuhanan untuk memanfaatkan peluang-peluang bisnis masa pandemi. Bussines plan baru dibuat untuk mencari terobosan-terobosan peluang bisnis baru, optimalisasi aset, digitalisasi bisnis dan interkoneksi antar pelabuhan perikanan.

Temu FK2PT on line Serial 5 (13/8) diselenggarakan oleh FK2PT bekerja sama dengan IPB University dan Universitas Riau (UNRI) serta berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hadir dengan Tema Era Adaptasi Normal Baru untuk Pelaku Usaha Alat Tangkap, Galangan Kapal dan Sarana Penangkapan Ikan. Kegiatan digelar untuk mengurai permasalahan, tantangan dan peluang bagi kebangkitan dunia usaha dan industri perikanan dan kelautan nasional di masa pandemi COVID-19.

Agenda ini dihadiri oleh Ketua FK2PT Dr Agus Suherman, perwakilan UNRI Dr Ir Johny Zain, MSi, para Guru Besar/Akademisi Bidang Perikanan Tangkap dari IPB University, UNDIP, UNRI, UHO, UNHAS, USNI, UNTIRTA, UNRAM, UNDANA, perwakilan pemerintah, serta para pelaku usaha perikanan tangkap dari Aceh hingga Papua.

(hri/hri)