Pandemi COVID-19, Saatnya Bentuk Karakter Bangsa dari Keluarga

Yudistira Imandiar - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 18:04 WIB
BKKBN
Foto: BKKBN
Jakarta -

Keluarga dinilai sebagai hulu dari pembentukan karakter anak bangsa. Keluarga yang baik akan melahirkan putra-putri bangsa berkualitas baik yang tentunya menjadi penopang bangsa dan negara.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo mengemukakan kualitas generasi di masa datang ditentukan oleh kualitas keluarganya saat ini. Peran anggota keluarga semakin terasa di masa pandemi COVID-19. Keluarga berperan penting sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara di tengah kondisi pandemi saat ini.

Hasto menyatakan, di fase new normal keluarga memiliki kesempatan untuk berbenah memperbaiki dan menyatukan semangat untuk bangkit.

"Pandemi ini telah mengarahkan kita untuk kembali kepada kiprah kita dalam keluarga. Kembali pada lingkup yang paling kecil dan sangat berharga. Semua upaya yang dilakukan adalah untuk keluarga," ujar Hasto dalam keterangan tertulis Selasa (11/8/2020).

Menurut Lamanna dan Riedmann (1991), ada tiga fungsi utama keluarga, yaitu fungsi reproduksi yang bertanggung jawab, fungsi dukungan ekonomi, dan fungsi perlindungan emosional. Ketiga fungsi tersebut merupakan penopang untuk membentuk keluarga sesuai Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS).

Fungsi keluarga yang lebih luas dipaparkan dalam Undang Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Di dalam UU tersebut, tercantum delapan fungsi yang harus dijalankan setiap keluarga, di antaranya fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan.

Fungsi-fungsi keluarga menurut UU tersebut diinterpretasikan oleh BKKBN melalui pendekatan 'Asah, Asih, Asuh.'

"Asah, Asih, Asuh ini sekaligus mencerminkan delapan Fungsi keluarga yang dilaksanakan secara optimal," sambung Hasto.

Ia melanjutkan, pandemi COVID-19 hendaknya menjadi pengingat bagi setiap individu untuk kembali ke keluarga. Berdasarkan survei BKKBN terhadap 20 ribu keluarga di Indonesia yang digelar beberapa waktu lalu mengungkapkan, sebagian besar keluarga di Indonesia tangguh dalam menghadapi COVID-19 karena mampu menerima, saling mendukung, serta menghindari pertengkaran di masa pandemi ini.

Dari survei tersebut diketahui pula terdapat peran sentral istri dalam mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Dalam pertanyaan survei tentang siapa yang melakukan pekerjaan di rumah, 49,1 persen responden menjawab suami istri. Sementara itu, 34,3 persen mengatakan istri dominan, dan 15,9 persen istri saja.

Menyoal pengasuhan anak, dari hasil survei diketahui mayoritas suami-istri melakukannya bersama-sama (71,5 persen). Sementara itu, 21,7 persen responden menyatakan istri lebih dominan, dan 5,8 persen mengatakan hanya istri yang mengasuh anak.

Dalam hal pemenuhan atau pembelian kebutuhan rumah tangga, 53,8 persen keluarga mengungkapkan peran tersebut dibagi rata antara suami dan istri, 22,8 persen menyatakan istri lebih dominan dan 11,1 persen menyatakan hanya istri yang melakukannya. Sisanya, 8,3 persen mengungkapkan suami lebih dominan, dan 4 persen mengatakan hanya suami saja.

Dalam kapasitas sebagai orang tua, suami-istri juga diharapkan dapat memberikan edukasi reproduksi sesuai kelompok umur anak. Selain itu, suami-istri mesti membagi peran dalam mendampingi anak-anak menjalani pembelajaran berbasis rumah (PBR), serta menyediakan fasilitas pendukung seperti internet, sarana pembelajaran, dan fasilitas pendukung lainnya.

Sancoyo Rahardjo dari Pengurus Ikatan Penulis Keluarga Berencana mengungkapkan, pembagian peran suami-istri-anak dalam urusan internal keluarga di masa pandemi yang relatif berimbang menumbuhkan optimisme keluarga Indonesia tidak hanya mampu melewati situasi pandemi, tapi juga mampu mewujudkan sebuah mimpi bersama untuk menjadikan "Indonesia Emas" atau Indonesia Maju di 2045.

(mul/mpr)