Cegah Baby Boom, BKKBN Harus Kerja Lebih Keras

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 18:06 WIB
Bayi Baru Lahir
Foto: iStock
Jakarta -

Di masa pandemi ini ada kekhawatiran akan terjadinya 'baby boom' jilid 2. Pengurus Homeros (Komunitas Penulis, Pemerhati Sosial dan Kemasyarakatan) Sancoyo Rahardjo mengatakan hal itu mungkin terjadi karena COVID-19 telah melemahkan pelayanan program KB di lapangan.

"Banyak warga tak memakai alat kontrasepsi karena takut ke pusat-pusat pelayanan kesehatan. Sementara produksi anak terjadi lebih sering karena keseharian mereka lebih banyak di rumah," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2020).

Ia mengacu pada data nasional, dengan kondisi layanan normal jumlah kelahiran di Indonesia pada 2020 diproyeksikan sekitar 4,7 juta. Namun dengan adanya pandemi dan layanan yang terhambat, potensi terjadinya kelahiran atau kehamilan yang tidak diinginkan akan meningkat.

Mengutip data yang dimiliki BKKBN, telah terjadi penurunan peserta KB pada Maret 2020 dibandingkan bulan sebelumnya di seluruh Indonesia. BKKBN mencatat pemakaian suntik pada Maret turun dibanding Februari, dari 524.989 akseptor menjadi 341.109 akseptor. Pil dari 251.619 menjadi 146.767. Kondom dari 31.502 menjadi 19.583.

"COVID-19 sangat berdampak pada pelayanan KB. Ini karena pelayanan KB dilakukan melalui bakti sosial, sosialisasi oleh penyuluh KB, dan juga kader-kader KB. Full kontak, people to people contact, person to person. Itulah pelayanan KB yang dilakukan selama ini. Maka ketika diterapkan physical distancing atau social distancing saat COVID-19, jelas akan menurunkan pelayanan itu sendiri," paparnya.

Oleh karena itu Sancoyo menilai BKKBN harus bekerja keras untuk menanggulangi baby boom di tengah pandemi. Pelayanan kontrasepsi di semua fasilitas kesehatan diminta untuk terus berjalan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Sementara itu BKKBN diketahui telah menyiapkan 1,2 juta kader KB dan 24.000 penyuluh KB non-PNS untuk melakukan gerakan pelayanan KB dan penyuluhan program Bangga Kencana yang dikaitkan juga dengan COVID-19. Gerakan ini akan berlangsung di banyak daerah.

Pada 2020 ini BKKBN memiliki target yang harus diraih. Target tersebut harus sesuai dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan Rencana Strategis (Renstra) BKKBN 2020-2024.

Pemerintah menargetkan angka kelahiran atau total fertility rate (TFR) pada 2020 menjadi 2,26 anak per wanita. Sementara age specific fertility rate (ASFR) kelompok 15-19 tahun ditargetkan turun menjadi 25/1000 kelahiran.

BKKBN tengah menggencarkan pelayanan KB yang bergerak saat ini. Contohnya seperti mengunjungi pasangan usia subur (PUS) di kediaman mereka. BKKBN juga mengoptimalkan peran PKB/PLKB, meluncurkan informasi Keluarga Berencana secara masif dalam bentuk vlog dengan melibatkan publik figure, berkoordinasi dengan bidan untuk pelayanan KB. Termasuk mendorong rantai pasok alat kontrasepsi hingga ke akseptor secara gratis.

BKKBNBKKBN Foto: BKKBN
(prf/ega)