Round-Up

Kala Intelijen Negara Redam Viral Video Ibu Kota Zona Hitam

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 06:16 WIB
Pasar tradisional Rawamangun, Jakarta, terlihat menerapkan protokol kesehatan. Hal ini dalam upaya pencegahan penularan Covid-19 (Corona).
Foto ilustrasi Corona: (Rengga Sancaya-detikcom)
Jakarta -

Beredar di media sosial video dengan logo Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyatakan Jakarta saat ini masuk zona hitam Corona. Isu ini kemudian dibantah tegas oleh BIN.

Dalam video 'Jakarta Zona Hitam' yang berdurasi 1 menit 37 detik, video diawali dengan bumper in berlogo BIN berwarna merah dan kuning. Lalu muncul tulisan 'Kondisi COVID-19 di DKI Jakarta'.

Gambar kemudian berubah menjadi peta pemaparan kondisi COVID-19 di Jakarta. Di pojok kanan atas ada logo BIN berwarna kuning dan merah. Data tersebut dimulai pada tanggal 5 Maret 2020. Tampak peta masih berwarna putih.

Pada video itu kemudian digambarkan time labs perkembangan kasus COVID di Jakarta. Pada tanggal 28 Maret peta Jakarta mulai berwarna cream menuju oranye. Pada tanggal 4 Mei 2020, seluruh peta DKI Jakarta berwarna merah cerah.

Kemudian pada tanggal 17 Mei 2020, peta Corona di DKI Jakarta berubah menjadi merah tua. Sedangkan pada tanggal 28 Juli 2020, peta DKI Jakarta telah berwarna hitam. Warna hitam itu bertahan hingga 9 Agustus 2020.

Video 'Jakarta Zona Hitam' itu kemudian menampilkan perbandingan kasus akumulatif COVID-19 di DKI Jakarta dengan kab/kota tertinggi di Jawa Timur. Pada bagian ini ada tulisan 'Patuhi protokol kesehatan wujudkan Indonesia produktif dan aman COVID-19'. Pada akhir video juga ditutup dengan logo BIN berwarna merah dan kuning.

BIN langsung merespon video yang beredar itu. BIN memastikan bahwa video itu hoax.

"Hoax, bukan dari BIN," kata Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto saat dihubungi, Rabu (12/8).

Respons Pemprov DKI

Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menegaskan data yang beredar itu tidak benar. Riza mengatakan memang tingkat penyebaran Corona di DKI termasuk tinggi, tapi hal itu diantisipasi dengan testing dalam jumlah yang besar.

"Zona hitam itu apa maksudnya. Tidak ada Zona hitam," ujar Wakil Gubernur DKI, Ahmad Riza Patria, ketika dihubungi, Rabu (12/8).

"Di Jakarta memang penyebarannya tinggi karena disebabkan, testing banyak. Luar biasa testing kita. Jumlahnya bisa 5-10 ribu per harinya. Sudah jauh di atas 55 ribu lebih (per pekan)," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2