Round-Up

Mitos hingga Fakta Ilmiah Heboh 'Awan Tsunami'

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 05:23 WIB
Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Emilya Nurjani bicara soal awan tsunami, Selasa (11/8/2020).
Foto: Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Emilya Nurjani bicara soal awan tsunami, Selasa (11/8/2020). (Dok HumasUGM)
Jakarta -

Fenomena awan yang terlihat seperti tsunami di Meulaboh, Aceh, bikin heboh. Fakta ilmiah dan mitos masa lalu diungkap.

BMKG menegaskan fenomena itu lazim terjadi dan tidak berpotensi timbulkan bencana gempa atau tsunami. Deputi Bidang Meteorologi, BMKG, Guswanto menuturkan fenomena itu dinamakan awan arcus.

Fitur awan arcus dapat ditemukan di antara jenis awan Cumulonimbus dan Cumulus.

Awan berbentuk seperti tsunami itu akibat tidak stabilnya atmosfer di sepanjang pertemuan massa udara yang lebih dingin dengan massa udara yang lebih hanyat atau lembab.

"Sehingga membentuk tipe awan yang memiliki pola pembentukan horizontal memanjang," kata Guswanto dalam keterangannya, Selasa (11/8/2020).

Fenomena awan arcus juga bisa terjadi karena adanya fenomena angin laut dalam skala yang besar. Kemudian angin laut ini mendorong massa udara ke daratan, sehingga terjadilah gumpalan awan itu.

Dia menegaskan fenomena awan arcus adalah hal yang lazim terjadi. Namun dengan frekuensi yang jarang.

"Awan arcus merupakan awan yang lazim terjadi meskipun frekuensi kejadiannya jarang, memiliki tinggi dasar awan yang rendah, serta formasi pembentukannya horizontal memanjang seolah-olah seperti gelombang," katanya.

Tonton video 'Penjelasan Ilmiah BMKG soal Awan 'Tsunami' di Aceh':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2