SBY Bicara Prioritas Hadapi Corona: Kontrol Pandemi, Kontrol Krisis

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Selasa, 11 Agu 2020 00:46 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. (Dok Partai Demokrat)
Foto: Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. (Dok Partai Demokrat)
Jakarta -

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bicara soal prioritas menghadapi pandemi Corona yang sampai saat ini masih mewabah. Dia menyebutkan, kuncinya yakni menetapkan prioritas.

"Ketepatan pemerintah untuk menetapkan prioritas itu bagian dari sukses. Prioritasnya apa? Kalau saya tanpa harus memisahkan nyawa manusia dengan pulihnya ekonomi, kontrol pandemi ini, kontrol krisis," ujar SBY di acara Peringatan HUT ke-3 The Yudhoyono Institute (TYI), di Puri Cikeas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Senin (10/8/2020).

SBY menuturkan pertumbuhan ekonomi akan menyusul menuju arah positif ketika pandemi sudah berhasil dikendalikan. Untuk itu, SBY menilai prioritas juga harus berkaitan dengan strategi, termasuk kebijakan.

"Tadi, yang zona merah segera ubah menjadi kuning 1-2 bulan ini. Yang kuning menjadi hijau satu-dua bulan ini, misalnya. Dengan demikian itu dulu, karena ekonomi itu akan segera merata, melengkapi, menyusul," imbuhnya.

"Prioritas itu berkaitan dengan strategi, berkaitan dengan kebijakan. Saya kira pemerintah tahu. Dan saya lihat dan dengarkan meskipun tidak holistik, sepotong-sepotong, Insyaallah lah paling tidak harapan saya sudah menuju ke sana," kata SBY.

SBY lalu menyinggung kondisi ekonomi RI tidak sama dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Jerman, hingga Prancis. Maka dari itu, dia mengingatkan pemerintah untuk pandai-pandai mengalokasikan APBN.

"Pandai-pandailah mengalokasikan kita punya uang, budget kita, APBN kita. Apalagi kita tambah utang. Budget nggak ada, nggak cukup, utang masuk, nah ini harus pas betul, jangan kemana-mana, harus disiplin kita ini. Mestinya alokasinya untuk stop krisis. Dialirkan ke dunia kesehatan, APD-nya, kemudian pelayanan kesehatannya, semua, seluruh tanah air, agar semakin sedikit, semakin sedikit, semakin sedikit, maka akhirnya nol nantinya, insyaallah," tutur SBY.

Dia juga soal banyaknya pengangguran akibat dampak pandemi Corona. Bansos, kata SBY harus segera dialokasikan.

"Alokasikan juga Bansos, social safety net, BLT dan apapun namanya, saya rasa tidak berlebihan, itu juga harus berani mengalokasikan sumber daya yang tepat. Yang ketiga memang ekonomi harus dibangkitkan. Tiongkok sekarang contoh, UMKM dibantu, kemudian semua yang usaha mati suri dibantu. Yang kira-kira akan PHK besar-besaran dikasih insentif, supaya tidak PHK. Jadi banyak program yang bisa dilakukan agar terjadi kebangkitan ekonomi, terjadi stabilisasi ekonomi," paparnya.

"Nah kalau 3 itu saja, meskipun cekak kita punya ekonomi, keterbatasan dalam ruang fiskal kita pasti lebih efektif. Hentikan dulu, tunda dulu mengalokasikan yang pas-pasan ini ditambah utang yang tidak untuk kepentingan-kepentingan lain yang tidak terkait untuk menghentikan pandemi dan memulihkan ekonomi. Nanti setelah ekonomi kita bergeliat kembali, bangkit kembali baru dialokasikan untuk yang lain-lain. Jadi tetap disiplin, kita punya pengalaman di waktu yang lalu, pemerintah tidak disiplin terjadi krisis ekonomi. Negara lain juga begitu," kata SBY.

Resep SBY di Tengah Dilema

SBY juga menyampaikan resep terkait menghadapi dilema di tengah wabah Corona. Apalagi masa pandemi ini dihadapkan dengan dua pilihan soal nyawa manusia atau pertumbuhan ekonomi. Dia menilai momen sekarang itu tak tepat jika disebut dilema.

"Kalau ada yang serius menurut saya mendefinisikan dilema, keliru. Saya tidak bisa terima. Begini menurut saya, memilih apakah nyawa manusia yang diutamakan, selesaikan dulu atau ekonomi jangan dibiarkan berlarut-larut krisisnya, segera dipulihkan, dibangkitkan kembali, lantas memilih salah satu atau hal seperti itu dianggap dilema, menurut saya tidak tepat," paparnya.

SBY lantas memberikan contoh yang disebut sebagai dilema. Dia menekankan soal ekonomi dan nyawa tidak bisa disebut dilema.

"Contoh lain, sekarang pandemi Corona, di ICU ada dua orang yang kritis, sama-sama ibu rumah tangga, punya putra dan putri, usianya sebaya sekitar 70 tahunan, harus gunakan ventilator, tapi cuman satu yang tersedia. Memilih ini dilema, siapa yang dikasih, dokter dan perawatnya bingung. Tetapi kalau ekonomi dan nyawa manusia menurut saya bukan dilema," jelasnya.

SBY kemudian menyampaikan resep menghadapi dilema ini. Menurutnya nyawa manusia dan ekonomi bisa diselamatkan secara bersamaan.

"Saya punya resep, saya punya tesis melewati buku ini. Bahwa sebenarnya sangat bisa dua-duanya diselamatkan, jangan ada yang dikorbankan, manusia tentu diutamakan penyelamatan jiwanya, tapi tidak perlu ekonomi menunggu sampai semua sudah terang benderang. Sudah aman. Pilihan seperti itu, strategi seperti itu, kebijakan seperti itu, yang menggabungkan penyelesaian krisis kembar ini seperti ini yang harmonis yang pas, itu harus solusi daripada dianggap memilih salah satu," tutur SBY.

"Sangat bisa dilakukan secara bersamaan, tentu dengan strategi yang tepat, dengan kebijakan yang tepat, dengan aksi yang tepat pula, inilah kriris utama dari buku yang saya tulis itu," jelas dia.

(idn/idn)