Doni Monardo: Manusia yang Membawa COVID-19 Jauh Lebih Berbahaya

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Senin, 10 Agu 2020 22:20 WIB
Ketua Gugus Tugas Penanganan Wabah Corona Doni Monardo
Doni Monardo (Rakean R Natawigena/20detik)
Jakarta -

Kepala Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyampaikan masyarakatlah yang sesungguhnya menjadi ujung tombak pencegahan COVID-19. Doni Monardo bicara betapa berbahayanya seseorang yang membawa virus Corona.

"Dokter harus kita jadikan benteng terakhir pertahanan negara kita di bidang kesehatan, ujung tombak dari upaya (pencegahan COVID-19) ini adalah masyarakat," kata Doni saat rapat Koordinasi Pencapaian Target Realisasi APBD 2020 dan Sosialisasi Penggunaan Masker, Cuci Tangan, serta Jaga Jarak untuk Perubahan Perilaku Baru Masa Pandemi COVID-19 yang disiarkan langsung YouTube Kemendagri, Senin (10/8/2020).

Doni menuturkan hal itu bisa disebut sebagai kolaborasi pentahelix. Di mana pelibatan seluruh komponen berbagai elemen masyarakat dinilainya dapat membantu mempercepat pemutusan mata rantai penularan COVID-19 dan memulai disiplin dengan protokol kesehatan.

"Kolaborasi pentahelix berbasis komunitas dengan melibatkan seluruh komponen yang ada, baik komponen pemerintah pusat yang ada di daerah termasuk komponen pemerintah daerah sendiri, akademisi, para peneliti, dunia usaha dan juga kelompok masyarakat berbasis organisasi keagamaan termasuk juga media," tuturnya.

"Apabila ini bisa kita lakukan, maka kita akan bisa mempercepat memutus mata rantai penularan. meningkatkan kesadaran politik, seseorang tidak bisa berpuas diri kalau dia disiplin tanpa dia mampu mengajak lingkungannya dia disiplin," sambungnya.

Doni mengatakan virus Corona berbahaya. Namun lebih berbahaya lagi orang yang membawa dan menyebarkan virus tersebut.

"COVID sangat berbahaya, tetapi manusia yang membawa COVID jauh lebih berbahaya," ucapnya.

Untuk itu, Doni menyampaikan pentingnya mengedukasi masyarakat agar dapat mengubah perilaku dengan gaya hidup sehat sesuai dengan protokol kesehatan. Dikatakan Doni, apabila masing-masing orang tidak peka dan menyadarkan orang di sekitarnya, cepat atau lambat orang tersebut bisa menjadi korban.

"Kita harus bisa, paling tidak mengajak masyarakat untuk membawa atau mempengaruhi orang-orang di sekitar patuh terhadap protokol kesehatan. Kalau setiap hari ada 2 orang saja yang berhasil dipengaruhi dan itu bergulir setiap hari, maka percepatan antara kasus penularan dengan percepatan memutus mata rantai penularan akan bisa lebih cepat memutus mata rantai penularan," pungkasnya.

(gbr/gbr)