Cita-cita Tak Sampai, Dokter Gigi Palsu di Bekasi Pernah Jadi Asisten Dokter

Yogi Ernes - detikNews
Senin, 10 Agu 2020 18:15 WIB
Cita-cita Jadi Dokter, Dokter Gigi Palsu di Bekasi Pernah Jadi Asisten Dokter
Foto: Yogi Ernes/detikcom
Jakarta -

Polisi memastikan Antoni (25) yang menjelma menjadi 'dokter gigi' di 'Klinik Antoi Dental Care' di Bekasi. Polisi mengungkap Antoni bukan seorang dokter gigi dan tidak berkompeten untuk melakukan tindakan kepada pasien, tapi pernah menjadi asisten dokter di beberapa klinik.

"Dia jadi asisten di salah satu klinik dan beberapa kali pindah tempat. Dia belajar bagaimana penanganan gigi dari situ. Secara resmi yang bersangkutan bukan dokter dan perizinan tidak ada. Izin untuk membuka klinik juga tidak ada," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Senin (10/8/2020).

Yusri mengatakan Antoni memang beberapa kali pindah kerja dari satu klinik ke klinik lainnya ketika menjadi asisten dokter. Dia mengatakan hingga kini pun pelaku masih berstatus sebagai asisten dokter di salah satu klinik kedokteran.

Terkait peralatan kedokteran gigi, salah satunya dental chair yang dimiliki oleh tersangka di klinik palsunya, Yusri mengatakan barang tersebut dibeli tersangka secara bekas seharga Rp 16 juta.

"Dia menggunakan modal sendiri pengakuan dia. Contoh saja alat praktek yang besar itu (dental chair) dia beli bekas seharga kurang-lebih Rp 16 juta dan dia membuka praktik di rumahnya. Dia buka praktik sudah dua tahun dari 2018," terang Yusri.

Kepada polisi, Antoni memang mengakui bercita-cita menjadi dokter. Namun, impian tersebut urung tercapai ketika tersangka gagal dalam ujian menjadi dokter. Namun, sejak 2018, pelaku kemudian nekat membuka praktik dokter gigi di daerah Bekasi Timur, Kota Bekasi.

"Ditanyakan memang betul cita-citanya jadi dokter. Tetapi kan nggak mudah juga harus melalui ujian dan dia tidak lulus. Mentoknya di sekolah menengah kejuruan (SMK) saja," kata Yusri.

"Jadi saya pertegas lagi Antoni ini tidak pernah berkuliah di kedokteran gigi dan bukan dokter gigi. Dia membuka praktek tanpa ada izin dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Yang bersangkutan memang pernah dan masih bekerja sebagai asisten di salah satu klinik dokter gigi, sehingga dia belajar dari sana," sambung Yusri.

Atas perbuatannya tersebut, Antoni kini dijerat dengan Pasal 77 jo Pasal 73 ayat (1) dan/atau Pasal 78 jo Pasal 73 ayat (2) UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda maksimal Rp150 juta.

(mei/mei)