Kasus Positif Melonjak lagi, Pakar Sebut Sumbar Masuki Gelombang Kedua Corona

Jeka Kampai - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 18:17 WIB
Poster
Ilustrasi pandemi Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Padang -

Jumlah warga Sumatera Barat (Sumbar) yang positif Corona (COVID-19) meningkat sejak Hari Raya Idul Adha 1441 H atau sepekan terakhir. Kasus positif Corona di Sumbar menembus angka 1.038 orang. Hari ini tercatat ada penambahan 32 kasus.

"Ini sudah gelombang kedua. Kalau kita bicara kurva, ini sudah merangkak membentuk gelombang baru," kata ahli epidemiologi Universitas Andalas (Unand), Padang, Defriman Djafri, kepada wartawan, Kamis (6/8/2020).

Defriman mengingatkan ancaman bahaya yang akan muncul jika lonjakan jumlah kasus tidak segera diatasi. Menurut Defriman, Sumbar telah memasuki gelombang kedua pandemi virus Corona jenis baru.

Gelombang pertama sudah mereda setelah momen Hari Raya Idul Fitri, ketika penambahan kasus COVID-19 setiap hari berada di bawah angka 10. Begitu momentum Idul Adha, penambahan kasus COVID-19 di Sumbar kembali meningkat.

Dalam catatan Pemprov Sumbar, sejak Idul Adha terjadi penambahan 131 kasus baru. Yang tertinggi terjadi pada Jumat (31/7), yakni 41 kasus dalam satu hari, disusul angka terbesar kedua hari ini, sebanyak 32 kasus lagi.

Defriman menyebut peningkatan jumlah kasus positif harus dipertanggungjawabkan oleh Pemprov Sumbar. Defriman menyinggung penyataan Gubernur Sumbar yang mempersilakan dan mengajak perantau pulang kampung sebagai ganti momen mudik Idul Fitri.

"Kondisi itu menyebabkan ada gelombang orang datang ke Sumbar dari luar, termasuk dari daerah zona merah yang membawa kasus impor. Kasus impor tersebut kini telah menciptakan klaster baru di kantor-kantor pemerintah, BUMN, dan BUMD," tutur dia.

Dengan kejadian ini, Defriman menilai Pemprov Sumbar harus siap dengan serangkaian upaya memutus mata rantai, seperti testing, tracing, dan isolasi.

"Ketika keran pintu masuk sudah dibuka lebar oleh pemda, artinya Sumbar harus siap berpacu untuk melakukan testing, tracing, dan isolasi. Bila kalah berpacu melakukan tiga tindakan tersebut, penularan akan terus terjadi, semakin meluas," jelas Defriman.

Dia juga menyoroti soal ancaman orang tanpa gejala (OTG). "Orang tanpa gejala akan terus menularkan COVID-19 bila pemda terlambat melakukan tracing," imbuh dia.

(aud/aud)