Satgas Ungkap Kebiasaan Orang Indonesia yang Bikin Angka Kematian Corona Tinggi

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 15:21 WIB
Anggpta Tim Pakar Satgas COVID-19 Dewi Nur Aisyah
Dewi Nur Aisyah (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)
Jakarta -

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 memaparkan penyebab angka kematian akibat virus Corona (COVID-19) Indonesia masih tinggi. Salah satunya adalah faktor kebiasaan masyarakat Indonesia.

Kebiasaan yang dimaksud adalah berobat hanya saat kondisi sudah memburuk. Anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan hal itulah yang kemudian memicu terlambatnya dilakukan penanganan.

"Harus kita pahami bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia biasanya baru pergi berobat ketika kondisinya sudah buruk. Mungkin ketika gejalanya ringan 'ah, nggak papa, ah' nanti sembuh sendiri. Atau cukuplah nanti kita minum obat warung," kata Dewi dalam diskusi yang disiarkan BNPB, Rabu (5/8/2020).

Dewi mengungkapkan, banyak pasien COVID-19 yang datang ke rumah sakit saat kondisi sudah memburuk. Padahal rumah sakit juga tengah dipenuhi pasien lainnya.

Hal itulah yang membuat rumah sakit kemudian kesulitan menentukan prioritas, sehingga penanganan pasien COVID-19 menjadi terlambat.

"Kebanyakan kita temui pasien pasien di rumah sakit ini ketika kondisinya sudah memburuk baru datang ke rumah sakit. Nah, ketika datang ke rumah sakit, apalagi rumah sakitnya penuh atau banyak yang datang ke sana, ya pasti kan agak sulit ya untuk mana yang lebih dahulu untuk diprioritaskan," tuturnya.

"Jadi mungkin kemungkinan potensi penyebab kematian pertama adalah penanganan yang terlambat karena pasien juga datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah lebih buruk dari kondisi yang di awal," sambung Dewi.

Kemudian, penyebab kedua adalah secara epidemiologi. Indonesia memiliki dua beban, yakni penyakit menular seperti COVID-19 dan penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Dewi menjelaskan saat penderita COVID-19 juga memiliki penyakit penyerta, potensi kematian menjadi tinggi.

"Jadi kalau kita lihat karena bebannya masih banyak kondisi penyakit tidak menular dan ketika dia punya kondisi penyerta kemudian terkena COVID ini akan membuat kondisi pasien lebih memburuk, ini juga yang menyebabkan tadi ada angka kematian juga tinggi. Karena juga angka penyakit tidak menularnya juga tinggi," paparnya.

Kemudian, penyebab tingginya kematian di Indonesia yang ketiga adalah perihal ketersediaan fasilitas kesehatan. Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang banyak, Dewi mengatakan jumlah fasilitas kesehatan di Indonesia juga harus ditingkatkan.

"Jadi jangan sampai kalau kita belajar dari Amerika ketika semua orang heboh dengan COVID-19 dan berbondong-bondong pergi ke rumah sakit, akhirnya rumah sakitnya dipenuhi oleh banyak pasien, kemudian bingung untuk mengambil mana Yang lebih baik didahulukan. Akhirnya bisa miss mana yang seharusnya prioritas dan mana yang tidak prioritas. Jadi kita punya PR, terkait jumlah penduduk yang banyak, fasilitas kesehatan yang harus kita tingkatkan jumlahnya," papar Dewi.

Saat ini, total kasus kematian di Indonesia mencapai 5.388 atau 4,68 persen. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia yang 3,79 atau 3,89 persen.

Tonton video 'Erick Thohir Yakin 500 Juta Vaksin Corona Diproduksi Tahun Depan':

[Gambas:Video 20detik]



(mae/tor)