Ilmuan Muslim Populer di Barat (15)

Ibn Khaldun

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 07:00 WIB
Poster
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Ibn Khaldun yang bernama lengkap Wali al-Din Abd al-Rahman bin Muhammad ibn Abu Bakar Muhammad ibn al-Hasan, lahir di Tunis pada 1 Ramadan 732H. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab Hadramaut yang pernah menetap di Serville, Italy, dan Sepanyol, kemudian pindah dan menetap di Afrika Utara semasa pemerintahan Hafs Abu Zakariyya, pemerintah Tunis pada waktu itu. Ibn Khaldun mendapat pendidikan dalam berbagai disiplin ilmu keislaman seperti 'Ulim al-Quran, 'Ulum al-Hadis, Kikih, kebahasaan, falsafah, dan Ilmu Mantik. Ia banyak mendapatkan bimbingan dari Muhammad Ibrahim al-Abili, Abu Abd Allah al-Jayyani, dan Abd Allah Muhammad ibn Abd al-Salam.

Ibn Khaldun termasuk sosiolog muslim paling sering dikutip oleh ilmuan Barat. Pnelitian sosiologis yang dikembangkan Ibn Khaldun sangat teliti kalrena ia mendapatkan pengaruh metode penelitian hadis yang sangat teliti, jauh lebih teliti dan obyektif dari pada ilmuan social Barat. Validitas sumber tidak hanya menekankan persambungan sanad tetapi kualitas personal (tsiqah) juga menjadi dasar pertimbangan akademik.

Baca juga: Ibn Battuta


Karya yang paling menakjubkan dari Ibn Khaldun ialah "Al-Muqaddimah" yang di dalamnya bukan hanya berbicara tentang sosiologi tetapi juga masalah ekonomi dan politik. Ia menggambarkan pengalaman dunia Islam dalam lintasan sejarah. Ibn Khaldun menggagas prinsip dan pemikiran ekonomi Islam dengan berangkat deri jargon-jargon Al-Qur'an seperti keadilan (al-adl/fairness), hardworking dan kerjasama (ta'awun/cooperation), dan kesederhanaan (moderation).


Perinsip keadilan menurut Ibn Khaldun merupakan tulang punggung ekonomi Islam. Apabila keadilan tidak dapat diwujudkan maka Negara dan masyarakat akan hancur. Teorinya yang paling terkenal ialah teori empat generasi, yaitu generasi perintis, generasi pembangun, generasi penikmat, dan generasi penghancur. Ia menghubungkan asumsinya ini dengan pengalaman dunia Islam (baca: Dunia Arab). Sering kali terjadi generasi perintis dan generasi pembangun mengorbankan segala kepentingan pribadi demi generasi pelanjutnya, tetapi sayang sekali generasi penikmat menghianati leluhurnya dengan memperpendek jarak generasi penikmat lalu masuk ke generasi penghancur. Pengorbanan yang luar biasa dari generasi sebelum kita di dalam merintis sebuah masyarakat tetapi begitu gampang dan cepatnya generasi berikutnya menghancurkan impian-impian pendahulunya.


Ketidakadilan yang dimainkan oleh sebauah generasi membawa kepada kejatuhan sesebuah rezim. Menurut Ibn Khaldun, karena ketidak adilan terbukti mendatangkan malapetaka sejarah makanya itu wajar jika ada masyarakat yang berani menggugat generasi yang sedang eksis untuk menyingkirkan ketidak adilan di dalam sebuah rezim. Al-Qur'an dan hadis juga banyak memberikan warning terhadap ketidak adilan, karena hal ini akan
Berdasarkan analisis mendalam, Ibn Khaldun memiliki teori yang mendalam yaitu menganggap manusia sebagai manusia Islam (Islamicman/homo Is lamicus) yang memerlukan pengetahuan ekonomi untuk memenuhi misinya di atas muka bumi ini. Ibn Khaldun menekankan perlunya manusia menjauhi perbuatan jahat dan sebaliknya kita wajib mengikuti ajaran Islam sebagai model untuk memperbaiki diri dan mesti memberikan keutamaan kepada kehidupan akhirat. Tidak heran jika teori Ibn Khalden sebagaimana dipaparkan di dalam Al-Muqaddimah-nya banyak menakjubkan para peneliti ilmu-ilmu social Barat.

Baca juga: Al-Gazali

(lus/lus)