Bukan Naik, Angka Kelahiran Bisa Turun Saat Pandemi Gara-gara Ini

Yudistira Imandiar - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 18:06 WIB
ibu hamil
Foto: shutterstock
Jakarta -

Pandemi COVID-19 diprediksi bakal mendorong angka kelahiran di Indonesia. Prakiraan itu didasari kondisi isolasi mandiri yang membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, serta penurunan penetrasi program Keluarga Berencana (KB).

Namun, teori lonjakan kelahiran akibat pandemi tersebut tidak sepenuhnya benar. Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI Omas Bulan Samosir menjabarkan, ada sejumlah faktor di situasi pandemi yang justru dapat menekan angka kehamilan.

Omas menerangkan, pandemi COVID-19 memunculkan gangguan-gangguan atau disrupsi terhadap sejumlah komponen kelahiran. Timbulnya ketakutan dan kekhawatiran akan penularan COVID-19, sebut Omas, merupakan salah satu hal yang dapat menurunkan daya reproduksi manusia. Selain itu, penurunan pendapatan hingga kehilangan pekerjaan memberikan tekanan psikologis yang turut mereduksi kemampuan reproduksi.

"Bagi para perempuan, khususnya para ibu, pandemi COVID-19 telah meningkatkan kesibukan apalagi jika mereka harus bekerja dari rumah (work from home/WFH), mengurus keluarga, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, dan melaksanakan urusan- urusan sosial mereka dan keluarga mereka sehingga waktu dan energi untuk reproduksi terbatas," tulis Omas dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2020).

Pelemahan ekonomi dan penerapan protokol kesehatan secara ketat menuntun pada kecenderungan keluarga yang tengah menunda kehamilan berupaya mencegah kehamilan. Sementara itu, keluarga yang sudah merencanakan kehamilan memilih untuk menunda.

Omas mengatakan kondisi pandemi COVID-19 berbeda dengan situasi pascaperang di tahun 1960-an. Saat itu, rinci Omas, terjadi ledakan jumlah bayi di Indonesia. Pemicunya, yaitu kondisi keamanan yang mulai stabil usai perang kemerdekaan dan belum ada program KB yang diinisiasi pemerintah.

Ia memandang, fenomena kehamilan di masa pandemi COVID-19 kurang lebih mirip dengan masa krisis moneter tahun 1997-1998. Masalah finansial yang menekan psikologi masyarakat menurunkan kemampuan fertilitas. Selain itu, pada masa tersebut Badan kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) sebagai lembaga pemerintah telah berperan dalam penyelenggaraan program KB untuk menjaga tingkat kelahiran pada masa-masa sulit.

"Terdapat kecenderungan untuk menunda perkawinan pada masa pandemi COVID-19 sehingga memperpendek waktu perempuan dalam status kawin dan menurunkan kelahiran. Selain itu, WFH memungkinkan para ibu yang menyusui untuk menyusui bayi dan anak mereka dengan lebih intensif sehingga dapat memperpanjang masa tidak subur setelah melahirkan dan menurunkan kelahiran," timpal Omas.

Omas menekankan, ketersediaan alat KB jangka pendek, yakni pil dan suntik mesti diperhatikan agar angka kelahiran tidak melonjak. Pemberdayaan teknologi dan informasi juga penting dilakukan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan akses informasi, layanan, dan alat KB.

"Seperti pada masa krisis moneter, BKKBN juga harus meningkatkan perannya untuk menghindarkan tingkat kelahiran naik pada masa pandemi COVID-19 dengan mengupayakan peningkatan pemenuhan kebutuhan ber-KB. Dengan demikian, tingkat kelahiran akan tetap turun meskipun ada pandemi COVID-19," tuntas Omas.

BKKBNBKKBN Foto: BKKBN
(mul/ega)