Round-Up

Djarot Vs Pengurus Ranting yang Dianggap PDIP Tak Terlalu Penting

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 05:29 WIB
Djarot Saiful Hidayat
Foto: Djarot Saiful Hidayat. (Ari Saputra/detikcom).

Bukan hanya Ketua PAC PDIP Medan Johor, Gumana Lubis saja yang tak terima atas pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Relawan Jadikan Akhyar Medan Satu juga mengungkapkan kekesalan sambil menyebut Djarot yang pernah dikaitkan dengan kasus reklamasi.

"Akhyar Nasution dikatakan seorang kader yang melakukan terkait hukum oleh Mas Djarot. Pak Akhyar tidak direkom kata Pak Djarot salah satunya karena Akhyar terindikasi hukum, yaitu (masalah) hukum MTQ. Di sini ada berita tentang Djarot di kasus NJOP reklamasi. Saya mengambil ini semua dari media online," kata ketua relawan Jadikan Akhyar Medan Satu, Ade Dermawan, Rabu (29/7/2020).

Kasus yang dimaksud Ade ini adalah mekanisme dalam penetapan NJOP pulau C dan D di pulau reklamasi teluk Jakarta. Saat itu Djarot yang masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta disebut akan turut diperiksa oleh Polda Metro Jaya.

Kembali ke Ade, dia kemudian mengaitkan pernyataan Djarot yang menyebut PDIP tidak akan mendukung calon yang bermasalah hukum. Ade menyebut Djarot tetap diusung PDIP di Pilgub Sumut pada tahun 2018 meski pernah dikaitkan dengan kasus reklamasi.

"Dengan ini terbantahkan, walaupun Mas Djarot tidak terbukti, Akhyar juga belum terbukti masalah MTQ. Jadi jangan dibawa-bawa Akhyar di MTQ. Hari ini mas Djarot juga tahun 2016, dia juga terindikasi kenapa bisa jadi Cagub daripada Sumut di Pilkada kemarin. Saya tidak mengada ada, ini dikutip dari media," tutur Ade.

Djarot pun mendapat pembelaan dari DPD PDIP Sumut. Wakil Ketua Bidang Komunikasi Politik DPD PDIP Sumut, Aswan jaya menilai kritik yang disampaikan Ketua PAC PDIP Medan Johor, Gumana Lubis lantaran tak memahami maksud pernyataan Djarot.

"Karena maksud dari Pak Djarot tidak dipahami oleh beliau. Maksud Pak Djarot itu kan agar semua kader tetap hormat terhadap keputusan partai. Partai sendiri sampai saat ini belum memberikan keputusan apa-apa terkait Pilkada Medan," ungkap Aswan.

Tak hanya itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP juga tak ambil pusing soal 'panasnya' internal partai di Sumut. Ketua DPP Bidang Pemenangan Pemilu PDIP Bambang Wuryanto menilai serang menyerang antara Djarot dengan pengurus ranting PDIP di Medan sebagai dinamika partai.

"Itu masalah kecil, itu hanya dinamika kecil, akibat dari dialektika. Apa dialektikanya? Akhyar kepengin, terus rekom cuma 1, mana bisa merekom 2 partai, rekom cuma 1. Kemudian ada kekecewaan, dari dialektika ini kan kemudian karena keinginan tidak terpenuhi kan kecewa, biasa saja. Itu dinamika biasa saja," kata Bambang kepada detikcom, Rabu (29/7/2020).

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR itu, ada kader di DPD Sumut sudah dekat dengan Akhyar Nasution. Kemudian, kader tersebut mengikuti sikap Akhyar. Bambang juga menyinggung kondisi di Medan yang serupa dengan kondisi di PDIP Solo beberapa waktu lalu terkait pencalonan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka pada Pilwalkot Solo.

Sebelum ada rekomendasi resmi dari DPP PDIP, Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo memberikan dukungan kepada Achmad Purnomo. Namun begitu DPP PDIP sudah mengeluarkan keputusan dengan memberikan rekomendasi kepada Gibran, Wali Kota Solo itu pun kemudian langsung bekerja untuk pemenangan Gibran.

"Ada orang yang terlanjur dekat dengan Pak Akhyar Nasution selama ini, misalnya, yang kemudian ikut-ikutan bersikap seperti Akhyar boleh dong. Tapi keputusan proses, selesai," sebut Bambang.

Bambang Pacul WuryantoBambang 'Pacul' Wuryanto (Foto: Ari Saputra/detikcom).

"Contoh Solo, apakah kata Pak Rudy sebagai Ketua DPC? 'Saya tegak lurus akan mengamankan perintah partai, memenangkan Gibran'. Clear toh? Dulu kurang apa dinamikanya? Itulah PDIP, biasa," tambah dia.

Bambang kembali berbicara soal dinamika PDIP di Sumut. Pembelaan Gumana Lubis yang merupakan Ketua PAC Medan Johor itu dinilai lantaran ia loyalis Akhyar yang kini pindah ke Demokrat.

"Itu dinamika biasa. Dialektika, dinamika, dari dinamika itu muncul romantika. Romantika Ketua PAC terhadap Akhyar itu romantika. Ketua PAC itu sedang beromantika dengan Akhyar, ini kalimat saya," ucap Bambang.

Untuk diketahui, Akhyar pindah ke Demokrat setelah mendapat rekomendasi dari partai berlambang mercy itu sebagai calon wali kota Medan. PDIP sendiri digadang-gadang akan mengusung menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution di Pilwalkot Medan 2020.


(elz/imk)