Ketua MPR Soroti Persaingan Negara Dunia Kembangkan Vaksin COVID-19

Yudistira Imandiar - detikNews
Rabu, 29 Jul 2020 18:05 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo memandang penemuan vaksin merupakan isu krusial di negara-negara yang terjangkit virus Corona, termasuk Indonesia. Sejumlah negara bersaing menemukan vaksin yang paling tepat untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.

Bamsoet mengulas persaingan pengembangan vaksin berlangsung di sejumlah negara Eropa dan Amerika. Pekan lalu, kata dia, mengeluarkan peringatan keamanan, karena intelijen ketiga negara tersebut mencurigai Rusia tengah berupaya meretas data vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan.

"Tanggal 22 Juli 2020, Amerika Serikat meminta China menutup konsulat jenderalnya di Houston, Texas sebagai upaya agar China tak bisa mengejar penemuan vaksin yang dikembangkan National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) yang berbasis di Texas. Menandakan betapa gentingnya pandemi COVID-19 yang hanya bisa dituntaskan melalui penemuan vaksin," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (29/7/2020).

Bamsoet menekankan, saking gentingnya penemuan vaksin, Amerika Serikat mengucurkan investasi US$2,2 miliar untuk mendukung penelitian program vaksin oleh perusahaan farmasi Moderna, Johnson & Johnson, dan AstraZeneca. Dengan memberikan dukungan finansial, Amerika akan mendapatkan 300 juta dosis vaksin dari AstraZeneca pada akhir 2020.

Indonesia, tutur Mantan Ketua DPR RI periode 2014-2019 itu, juga tengah berupaya mendapatkan vaksin melalui kerja sama PT Biofarma dengan Sinovac Biotech.

"Vaksin Sinovac merupakan satu dari lima vaksin dunia yang sudah memasuki uji klinis fase ketiga. Empat vaksin lainnya antara lain Sinopharm oleh Wuhan Institute of Biological Products dan Beijing Institute of Biological Products, China, AstraZeneca oleh University of Oxford, Inggris, dan Moderna oleh NIAID, Amerika Serikat," sambung Bamsoet.

Bamsoet mengatakan, diperkirakan tahun 2021 Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri vaksin COVID-19 untuk diberikan kepada masyarakat. Bahkan, tak menutup kemungkinan Indonesia juga dapat membantu menyiapkan vaksin untuk negara lain.

"Perebutan mendapatkan vaksin COVID-19 menjadi penanda baru betapa dunia tak hanya dihantui persaingan militer, ekonomi, dan teknologi informasi. Melainkan juga persaingan di dunia farmasi kesehatan. Tak menutup kemungkinan di tahun mendatang dunia akan dilanda pandemi penyakit lain, yang menuntut vaksin sebagai jalan keluarnya. Indonesia harus bersiap diri mengembangkan dunia kefarmasian sejak dini," tuntas Bamsoet.

(ega/ega)