Sebaran 613 Klaster Corona di Jakarta, dari Perkantoran-Faskes

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 29 Jul 2020 15:21 WIB
Poster
Foto ilustrasi Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Total ada 613 klaster Corona di DKI Jakarta. Begini perincian sebaran klaster Corona di Jakarta.

Data 613 klaster Corona di Jakarta ini disampaikan tim pakar Satgas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah, dalam siaran YouTube BNPB, Rabu (29/7/2020). Ada lima jenis kelompok klaster Corona di Jakarta.

Kelompok pertama adalah permukiman atau (lokal transmisi). Lalu ada perkantoran, pasar rakyat, fasilitas kesehatan, dan tempat ibadah sebagai 4 kelompok klaster Corona Jakarta. Jika ditotal dari 5 kelompok itu, terdapat 613 klaster Corona Jakarta.

Berikut ini perincian 613 klaster Corona di Jakarta dari 4 kelompok tersebut:

1. Permukiman
- Total klaster: 283
- Jumlah kasus: 1.178

2. Pasar rakyat
- Total klaster: 107
- Jumlah kasus: 555
Perincian:
Jakarta Pusat: 28 pasar positif (228 kasus)
Jakarta Utara: 12 pasar positif (35 kasus)
Jakarta Barat: 25 pasar positif (96 kasus)
Jakarta Selatan: 20 pasar positif (53 kasus)
Jakarta Timur: 22 pasar positif (143 kasus)

3. Perkantoran
- Total klaster: 90
- Jumlah kasus: 459
Perincian:
Kementerian: 20 klaster, 139 kasus
Badan/lembaga: 10 klaster, 25 kasus
Kantor di lingkungan Pemda DKI: 34 klaster, 141 kasus
Kepolisian: 1 klaster, 4 kasus
BUMN: 8 klaster, 35 kasus
Swasta: 14 klaster, 92 kasus

4. Fasilitas kesehatan
- Total klaster: 124
- Jumlah kasus: 799

5. Rumah ibadah
- Total klaster: 9
- Jumlah kasus: 114
Perincian:
Gereja: 3 klaster, 29 kasus
Masjid: 3 klaster, 11 kasus
Asrama pendeta: 1 klaster, 41 kasus
Pesantren: 1 klaster, 4 kasus
Tahlilan: 1 klaster, 29 kasus

Terkait klaster perkantoran, Dewi Nur Aisyah mengatakan bisa jadi seseorang yang positif virus Corona sudah tertular kala dia berada di rumahnya atau sedang menaiki transportasi umum dari dan ke kantor. Dewi mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan saat masyarakat menggunakan transportasi umum.

"Bisa jadi 2 hal. Pertama, bisa jadi di perkantoran ada yang positif. Mungkin positifnya bukan di kantor, mungkin positif entah dari rumahnya sudah dapat, di perjalanan, naik kendaraan umum. Itulah kenapa kita harus waspada, terutama yang menggunakan moda transportasi umum bersama, seperti KRL, MRT," kata Dewi

"Bisa jadi ada yang tertular di kantor, tapi asalnya bukan dari kantornya, tapi dari perjalanan dia menuju kantor atau misalnya ketika ada di rumah," imbuh Dewi.

Dewi menyarankan masyarakat yang bekerja di kantor selalu disiplin akan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan tangan dengan kondisi steril. Jika memungkinkan, jendela di kantor disarankan dibuka untuk sirkulasi. Kapasitas pekerja yang masuk ke kantor disarankan maksimal 50% atau lebih rendah.

(gbr/imk)