Polisi di Bone Diperiksa Propam soal Tudingan Pemerasan, tapi Tak Terbukti

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 28 Jul 2020 23:27 WIB
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Ibrahim Tompo
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Ibrahim Tompo (Hermawan Mappiwali/detikcom)
Makassar -

Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) memeriksa semua anggota operasional Satuan Narkoba Polres Bone terkait tudingan pemerasan kepada salah seorang tersangkanya. Hasilnya, tudingan tersebut dinyatakan tidak terbukti.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Ibrahim Tompo mengatakan pemeriksaan telah dilakukan oleh anggota Propam sesuai dengan pelaporan dari warga Bone, Ika Pradiatna, yang didampingi LSM Arung Palakka.

"Karena adanya tudingan itu dan pelaporan, sehingga dilakukan pemeriksaan terhadap semua anggota Ops Narkoba Polres Bone. Pemeriksaan dilakukan secara profesional dan hasilnya sudah keluar," kata Kombes Ibrahim Tompo di Makassar, Selasa (28/7/2020) seperti dilansir Antara.

Ibrahim Tompo mengatakan hasil pemeriksaan terhadap delapan anggota Ops Satuan Narkoba Polres Bone tidak ditemukan bukti-bukti dari tudingan pemerasan tersebut.

Dia mengatakan, berdasarkan pemeriksaan, keterangan yang diperoleh dan alur cerita pelapor banyak yang tidak jelas dan juga tidak sesuai dengan situasinya. Selain itu, keterangan tempat, waktu, dan saksi juga tidak bisa dijelaskan pelapor. Dia mengatakan pelapor juga tak bisa menjelaskan soal jumlah nominal uang yang diberikan.

"Saat ditanyakan uang nominal berapa yang diberikan, ternyata pelapor tidak bisa menyebutkan nilai nominalnya. Pelapor juga tidak tahu dari mana uang tersebut diambil kemudian diserahkan kepada anggota, sehingga disimpulkan bahwa laporan tersebut tidak bisa dibuktikan," katanya.

Ibrahim Tompo mengatakan pelaku kejahatan narkoba yang ditangkap anggota Satnarkoba Polres Bone tersebut berusaha lepas dari jerat hukum. Jadi, lanjutnya, pelaku berupaya mendiskreditkan anggota.

"Namun kita juga bekerja objektif untuk mencari fakta dan kebenaran dari informasi tersebut dan hasilnya apa yang dilaporkan tersebut tidak benar. Hal seperti ini seharusnya tidak pantas terjadi karena sudah salah malah membuat cerita yang dikarang-karang," ucapnya.

(jbr/azr)