Mantan Atlet Maria Lawalata Bicara soal Kasusnya: Saya Kesulitan Keuangan

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 22:07 WIB
Maria Lawalata di Polres Jakut
Maria Lawalata di Polres Jakut (Kadek Melda/detikcom)
Jakarta -

Mantan atlet Maria Lawalata harus berurusan dengan polisi karena urusan kerja sama dengan pelapor yang merasa dirugikan Rp 150 juta. Kasus itu kini sudah diselesaikan secara kekeluargaan dan pelapor sudah mencabut laporannya.

Dalam jumpa pers di Polres Metro Jakarta Utara, Maria Lawalata dihadirkan. Dalam kesempatan itu, Maria Lawalata menyampaikan permohonan maaf.

"Mungkin semua ini manusia bisa khilaf jadi semua nya ini saya mohon maaf, terima kasih juga (karena) sudah membuat heboh untuk masyarakat bahwa berita ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan pada hari ini juga terima kasih," kata Maria Lawalata di Polres Jakut, Jl Yos Sudarso, Jakarta Utara, Senin (27/7/2020).

Siang tadi, keduanya dimediasi di Polres Jakut. Maria Lawalata merasa lega lantaran kasusnya bisa dimediasi.

"Saya juga ucapkan terima kasih atas mediasi, bantuan ini dan bisa diselesaikan pada hari ini bersama Bapak Beni untuk secara kekeluargaan," imbuhnya.

Lebih lanjut Maria mengungkap awal mula perkara yang kemudian membuatnya dilaporkan ke polisi. Untuk diketahui, awalnya Maria Lawalata mengajak pelapor bekerja sama dalam membangun sekolah sepak bola (SSB) dan saat itu pelapor memberikan uang sebesar Rp 150 juta kepadanya. Tetapi dalam perjalanannya, Maria Lawalata mengalami kesulitan keuangan, lantaran anak-anak binaannya tidak bisa membayar iuran.

"Banyak alasan, pada waktu itu memang anak-anak kita sudah sepakat untuk ada iuran segini, ternyata anak-anak yang dikumpulkan banyak orang yang nggak mampu. Jadi sementara ini saya sudah punya cita-cita ya sudah berjalan, dengan nanti kita akan membayar urusan belakangan. Ternyata ya sampe titik sekarang juga ya masih ada kesulitan gitu," kata Maria.

Lebih lanjut, Maria menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan dukungan kepada dirinya. Maria minta didoakan untuk mewujudkan cita-citanya membangun bangsa dan negara.

"Dan Saya makasih dan mohon maaf sebesar-besarnya untuk semua masyarakat yang tercinta telah men-support saya. Doakan saya, saya tetap ingin membangun bangsa dan negara," ucap Maria.

Kapolres Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto menjelaskan, kasus itu awalnya dilaporkan oleh pelapor berinisial BI pada 2016. Saat itu Maria Lawalata mengajak BI--yang juga temannya--mengembangkan sekolah sepak bola (SSB).

"Karena beliau (Maria Lawalata) nggak punya dana, beliau bekerja sama dengan korban namanya Pak BI, kemudian sudah disepakati sejumlah uang di mana uang ini nanti dipergunakan untuk penyewaan lapangan di beberapa lokasi yang kaitannya dengan SSB tersebut," kata Budhi kepada wartawan.

Namun kenyataannya, SSB itu tidak pernah ada. Tadinya, Maria mau mengembangkan SSB dengan menyewa lapangan di Cilincing, Jakut.

"Artinya ibu ini tidak menyewakan uang yang tadi disampaikan korban itu untuk menyewa lapangan sepak bola," katanya.

Selanjutnya pelapor mengadukan hal itu ke pihak kepolisian setelah jalan mediasi tidak menemukan titik temu. BI kemudian melaporkan Maria Lawalata ke Polres Jakut pada 2017.

Dua tahun berlalu atau tepatnya Januari 2019, Polres Jakut menetapkan Maria Lawalata sebagai tersangka. Polisi saat itu tidak menahan Maria Lawalata dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena Maria Lawalata adalah mantan atlet yang sudah ikut mengharumkan nama bangsa.

Berjalannya kasus hingga Mei 2020, pelapor menanyakan perkembangan kasusnya ke Polres Jakut. Polisi kemudian menggelar kembali kasus itu dan menuntaskan penyidikan dengan melakukan tahap I pelimpahan berkas perkara. Maria Lawalata sempat ditahan selama 50 hari di Polres Jakut.

Namun polisi kemudian menangguhkan penahanan Maria Lawalata per hari ini, setelah dilakukan mediasi kedua pihak atas permintaan dari Kemenpora. Pihak kepolisian akan segera menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) atas perkara tersebut dan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak kejaksaan.

(mea/mea)