Unjuk Kekuatan, TNI AL Gelar Latihan Perang di Perairan Natuna

Elza Astari Retaduari - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 13:29 WIB
Latihan perang TNI AL
Foto: Latihan perang TNI AL. (Dok Koarmada I).
Jakarta -

Jajaran Komando Armada I (Koarmada I) TNI AL menggelar latihan perang di Laut Jawa sampai Laut Natuna, Kepulauan Riau. Perairan Natuna yang merupakan zona ekonomi eksklusif (ZEE) ini sempat diklaim oleh China terkait dengan Laut China Selatan yang hingga kini masih menjadi konflik sejumlah negara, termasuk Indonesia.

"Gladi Tugas Tempur Tingkat-III ini merupakan latihan rutin yang di selenggarakan sebagai wujud pertanggungjawaban kepada masyarakat dan negara, sekaligus untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-75," ungkap Kadispen Koarmada I, Letkol Fajar Tri Rohadi dalam keterangannya, Senin (27/7/2020).

Menurut Letkol Fajar, Koarmada I sebagai Komando Utama Operasi dan pembinaan bertanggung jawab atas kesiapsiagaan seluruh komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang harus terintegrasi dengan baik.

Latihan digelar dari Laut Jawa sampai dengan Laut Natuna bagian selatan dan pantai pendaratan di Pantai Todak yang merupakan daerah latihan TNI AL. Pelaksanaan latihan perang ini dilakukan mulai 20-26 Juli 2020.

"Dinamika latihan di-setting lebih kompleks, sesuai dengan kebutuhan latihan," kata Letkol Fajar.

Ada 2.000 prajurit TNI AL yang terlibat dalam latihan perang ini. Ada 26 KRI, 17 pesawat udara (Pesud) TNI AL, dan 18 kendaraan tempur marinir lengkap dengan persenjataan arteleri yang ikut terlibat pada tahap manuver latihan tersebut.

Latihan perang TNI ALLatihan perang TNI AL. (Dok Koarmada I).

"Materi latihan yaitu pertempuran laut dengan beberapa doktrin peperangan seperti peperangan anti-udara, peperangan anti-kapal selam, peperangan kapal permukaan, operasi pasukan khusus dan pendaratan amfibi," terang Letkol Fajar.

Koarmada I memastikan, latihan kali ini dilaksanakan sesuai standar protokol kesehatan COVID-19. Meski saat ini pandemi virus Corona masih ada, kata Letkol Fajar, TNI AL harus tetap bertanggungjawab melaksanakan pembinaan dan pembangunan kekuatan dengan melaksanakan latihan perang ini.

"Seluruh peserta dan perlengkapannya dijamin aman. Peralatan yang digunakan telah di-sterilkan," tuturnya.

"Seluruh personel yang terlibat wajib menjalani rapid test dan pemeriksaan kesehatan sesuai protokol," lanjut Letkol Fajar.

Seperti diketahui, sengketa Laut China Selatan hingga saat ini masih belum menemukan titik temu di-antara negara-negara yang berbatasan dengan wilayah ZEE itu. China bahkan mengklaim Laut Natuna masuk dalam wilayahnya.

Sejumlah kapal asing penangkap ikan milik China diketahui memasuki Perairan Natuna pada Desember 2019. Terbaru, Amerika Serikat bahkan ikut mengerahkan dua kapal induknya ke perairan Laut China Selatan pada 17 Juli lalu.

Laut China Selatan memiliki potensi strategis dan menjadi rebutan karena sepertiga kapal di dunia melintasinya. Selain itu pada kawasan ini tersedia cadangan energi yang sangat besar.

Sejumlah negara di Asia Tenggara memiliki perairan yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Jadi tak mengherankan pula negara-negara di Asia Tenggara kerap terlibat konflik dengan China terkait Laut China Selatan. Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Vietnam, Indonesia menolak klaim China atas 90 persen wilayah Laut China Selatan.

Tonton video 'Kapal Timah Ilegal Beroperasi di Perairan Natuna':

[Gambas:Video 20detik]



(elz/fjp)