Ketua MPR: Tantangan Terbesar Umat Manusia Masa Kini adalah Hoax

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2020 21:23 WIB
Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong sekolah mengedepankan prinsip pendidikan literasi generik. Tujuannya, agar para siswa tidak hanya disibukkan dengan hafalan, tetapi juga mampu memiliki daya nalar kritis terutama dalam memerangi hoax atau misinformasi.

"Tantangan terbesar umat manusia saat ini, khususnya dalam dunia pendidikan adalah serangan hoax dan misinformasi. Serangan hoax dan misinformasi ternyata tak hanya terjadi pada pemilu saja melainkan juga di saat pandemi COVID-19 seperti saat ini," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2020).

Mantan Ketua DPR RI ini menuturkan jajak pendapat yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 terhadap 2.050 tenaga medis di seluruh Indonesia pada April 2020, menemukan bahwa 135 tenaga medis mengaku diusir dari tempat tinggalnya, 66 tenaga medis mendapat ancaman pengusiran, 140 tenaga medis dipermalukan karena bekerja di rumah sakit penanganan COVID-19, 160 tenaga medis dijauhi orang sekitar dan 71 tenaga medis dijauhi keluarganya.

"Respon masyarakat terhadap para tenaga medis tak lepas dari banyaknya informasi hoax dan misinformasi yang berseliweran di media sosial bahwa tenaga medis merupakan penyebar COVID-19. Bukannya menyaring, masyarakat malah mempercayai begitu saja," ungkap Bamsoet saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada pelajar pencinta alam SMA 68 Jakarta.

"Kejadian ini hampir serupa di saat pemilu dahulu. Masyarakat cenderung mempercayai informasi yang keliru. Jika pun sudah diluruskan, mereka tetap tak mau menerima, lantaran sudah terlebih dahulu percaya pada informasi yang menyesatkan tersebut," imbuhnya.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan misinformasi terbaru yang saat ini sedang hangat di media sosial adalah terkait termometer infrared (thermo gun) yang diklaim berbahaya bagi manusia. Tak tanggung-tanggung, informasi yang keliru menyebutkan penggunaan thermogun yang ditembakkan di jidat untuk mengetahui suhu tubuh, dianggap malah bisa membahayakan struktur otak manusia.

"Mudahnya masyarakat percaya dengan informasi serampangan tanpa dasar yang kuat, menandakan daya nalar kritis bangsa ini sedang di ujung tanduk. Sekaligus menjadi early warning bagi stakeholder dunia pendidikan duduk bersama mencari pola pembelajaran yang tepat guna mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat yang terkandung dalam pembukaan UUD NRI 1945," pungkas Bamsoet.

(prf/ega)