Penyebab Kasus Meninggalnya Editor Metro TV, Ini Opini Psikolog Forensik

Rosmha Widiyani - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2020 18:23 WIB
Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers di Mapolda Jaya, Jakarta, Sabtu (25/7/2020) terkait kematian editor Metro TV, Yodi Prabowo. Polda Metro Jaya menyatakan kematian Yodi Prabowo karena bunuh diri dengan cara menusukkan pisau ke perut dan leher. Hadir dalam keterangan pers tersebut antara lain Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat.
Polda Metro Jaya mengungkap kematian editor Metro TV Yodi Prabowo. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Temuan pihak kepolisian bahwa kasus meninggalnya editor Metro TV Yodi Prabowo, yang jasadnya ditemukan pada Jumat (10/7/2020) disebabkan bunuh diri, menyisakan kekecewaan bagi keluarga korban. Keluarga meyakini Yodi tak punya niat mengakhiri hidupnya sendiri.

Sebelum menyimpulkan penyebab meninggalnya editor Metro TV Yodi Prabowo sebagai upaya bunuh diri, polisi sempat memeriksa beberapa saksi. Salah satunya kekasih korban, Suci Fitri, yang menyatakan korban seperti memberi tanda terkait sebuah 'kepergian.'

"Dari keterangan saksi yang menonjol disebutkan bahwa korban pernah menyatakan berulang-ulang kepada S (Suci) setelah konflik yang sedemikian kuat, 'kalau saya tidak ada bagaimana?'," kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat.


Seperti diketahui, sebagai orang terdekat korban, Suci menjadi salah satu saksi kunci yang diperiksa berulang-ulang di kepolisian pada kasus tersebut. Sebenarnya pasangan kekasih ini merencanakan menikah tahun depan. Namun belakangan ada masalah 'orang ketiga' yang hadir dalam hubungan asmara mereka.Tubagus menafsirkan ucapan yang disampaikan editor Metro TV tersebut sebagai kematian. Menurut Tubagus, berdasarkan hasil pemeriksaan, ucapan tersebut berulang kali disampaikan Yodi kepada Suci.

Terkait kasus meninggalnya editor Metro TV, psikolog forensik Reza Indragiri ikut memberikan pendapat. Dalam pendapatnya, Reza menyoroti kalimat, 'kalau saya tidak ada bagaimana?'.

"Awam barangkali menganggap sepele perkataan semacam itu. Tapi dari perspektif psikologi, kalimat tersebut merupakan pertanda suicidal ideation (pemikiran tentang bunuh diri). Pemikiran semacam ini sama sekali tidak boleh dianggap enteng," tulis Reza dalam pesan yang diterima detikcom.

Reza mencontohkan WHO yang menyimpulkan, sekitar 60 persen transisi terkait bunuh diri berlangsung dalam waktu 12 bulan sejak pemikiran tersebut muncul. Transisi berawal dari pemikiran tentang bunuh diri ke rencana bunuh diri, lalu berlanjut ke langkah bunuh diri.

Karena cepatnya proses transisi mengirim pesan, masyarakat harus lebih serius menyikapi perkataan tentang bunuh diri yang dikemukakan siapa pun. Reza memberi contoh otoritas penerbangan yang tidak menoleransi ucapan 'bom' untuk menekankan pentingnya menanggapi perkataan tentang bunuh diri.


"Dikaitkan ke kasus editor media, kita tentu berduka atas kejadian dimaksud. Tinggal lagi investigasi polisi: seberapa jauh suicidal ideation akan dicermati sebagai salah satu arah penyelidikan guna mengungkap kasus meninggalnya sang editor," tulis Reza.Reza mengingatkan siapa pun perlu menyemangati orang-orang dengan suicidal ideation untuk segera mencari bantuan medis dan psikis. Masyarakat yang lebih paham pentingnya keseriusan menyikapi suicidal ideation akan menjadi protective factor bagi tercegahnya aksi bunuh diri.

Tonton video 'Editor Metro TV Diduga Bunuh Diri, Ibunda Rasakan Kejanggalan':

[Gambas:Video 20detik]



(row/pal)